PNM Jadi Perusahaan Pembiayaan Mikro Terbesar Dunia

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Jum'at 25 Juni 2021 20:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 25 320 2431035 pnm-jadi-perusahaan-pembiayaan-mikro-terbesar-dunia-V2O9LzhnEi.jpg Jumlah Nasabah PNM Capai 9,6 Juta. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - PT Permodalan Nasional Madani (Persero) menjadi perusahaan penyalur pembiayaan kelompok mikro terbesar di dunia dengan jumlah nasabah aktif hampir mencapai 9,6 juta per April 2021.

Kemampuan PNM melayani the bottom of pyramid pelaku usaha di Indonesia ini diyakini semakin kokoh, seiring pertumbuhan bisnis dan aktivitas pemberdayaan perseroan ke depan yang makin besar pasca integrasi ekosistem BUMN di sektor ultra mikro terbentuk.

Selama ini status perusahaan pembiayaan kepada pelaku usaha mikro dan masyarakat kurang mampu terbesar di dunia disandang Grameen Bank asal Bangladesh. Namun pada April 2021 lalu, PNM telah dapat melampaui dan menyusul capaian jumlah nasabah aktif PNM yang mengungguli Grameen Bank.

Baca Juga: PNM dan TRIM Terbitkan Obligasi Rp902,5 Miliar

Direktur Utama PNM Arief Mulyadi mengatakan, per April 2021, total nasabah Grameen Bank sebanyak 9,3 juta orang yang termasuk di dalamnya nasabah individual, nasabah komersial, walaupun masih didominasi nasabah dari segmen ultra mikro.

"Posisi April lalu, PNM sudah terbesar di dunia, dengan total nasabah aktif segmen ultra mikro sebesar 9,5 juta,” kata Arief, Jumat (25/6/2021).

Nasabah aktif tersebut artinya pelaku usaha tengah menjalani berbagai program pemberdayaan dan memiliki outstanding pembiayaan dari PNM. Saat ini PNM mencatat pertumbuhan nasabah ultra mikro yang terus bertambah setiap harinya, hingga per posisi Rabu (16/6/2021) berjumlah 9.757.437 nasabah.

Baca Juga: Bayar Utang, PNM Bakal Terbitkan KIK EBA

Arief menuturkan, pertumbuhan bisnis dan aktivitas pemberdayaan PNM ke depan berpotensi makin besar pasca terbentuknya Holding BUMN Ultra Mikro (UMi). Integrasi data pelaku ultra mikro nasional akan semakin solid karena holding tersebut.

Kondisi itu diyakini membuat pemberdayaan bagi pelaku UMKM yang dijalankan PNM bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI selaku induk holding dan PT Pegadaian (Persero), akan menjadi lebih baik.

Hal tersebut diharapkan mendorong PNM untuk mempercepat upaya ‘menaik kelaskan’ pelaku usaha ultra mikro. Arief juga menyebut cost of fund (CoF) PNM akan menjadi lebih murah pasca adanya holding, sehingga dapat menekan suku bunga pembiayaan ke pelaku ultra mikro ke depan, sebagaimana yang selalu diingatkan Pemerintah.

"Saat ini CoF kami sudah baik. Rating surat utang kami dan kepercayaan investor terus meningkat. Dengan Holding, rating ini akan semakin baik lagi. Kami juga memiliki kesempatan mendapat pembiayaan langsung dari BRI. Itu pun juga murah," sebutnya.

Kendati akan ‘menempel’ pada induk holding, Arief memastikan perseroan tetap memperhatikan arahan dan harapan Presiden Joko Widodo dalam memperluas pembiayaan ultra mikro. Menurutnya, presiden sudah meminta PNM dapat menembus 10 juta nasabah tahun ini, dan menargetkan dapat melayani sekitar 15 juta nasabah pada 2024.

Dia pun menekankan, pasca holding ciri khas PNM yang mengedepankan pola pemberdayaan dalam penyaluran pembiayaan kepada pelaku usaha ultra mikro tak akan hilang. Pemberdayaan usaha ultra mikro akan tetap menonjol karena metode penyaluran pembiayaan PNM dilakukan berbasis kelompok.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini