Muda dan Sukses, Kisah Pria 36 Tahun Bangun Bursa Kripto Terbesar

Hafid Fuad, Jurnalis · Minggu 11 Juli 2021 21:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 11 455 2438838 muda-dan-sukses-kisah-pria-36-tahun-bangun-bursa-kripto-terbesar-F6eeQcaNoT.jpg Nischal Shetty Sukses Kembangkan Kripto di India. (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA- Seorang coder dalam usia 36 tahun sukses membangun platform perdagangan kripto terbesar di India. Dia adalah Nischal Shetty yang telah membukukan sejarah di India.

Sepanjang semester I-2021, bisnis kripto miliknya telah tumbuh lebih dari 12 kali untuk menjadi mata uang digital terbesar di negara itu. Lalu kini, dia menetapkan fokusnya membuat WazirX sebuah startup unicorn kripto bernilai Miliaran Dolar yang pertama.

Tapi walaupun Shetty adalah seorang tech entrepreneur namun minat milenial menggunakan mata uang kripto pada dasarnya dipicu pemberontakan melawan perusahaan korporasi teknologi.

Baca Juga: Perusahaan dan Pelaku Kripto Wajib Penuhi Aturan Perdagangan RI

"Selalu ada alasan mengapa seseorang masuk ke kripto," kata Shetty seperti dilansir dari CNBC, Minggu (11/7/2021).

Shetty adalah pendiri dan CEO dari WazirX yang baru berusia 36 tahun. Perusahaannya adalah platform mata uang kripto yang memungkinkan pengguna untuk membeli, menjual dan berdagang koin virtual yang populer seperti bitcoin, ethereum, litecoin dan Ripple XRP .

Dia mengawali di tahun 2018 bersama dua pendiri lainnya Sameer Mhatre dan Siddharth Menon. Mereka telah mengambil keuntungan pada kenaikan tren investor ritel pada mata uang kripto.

Baca Juga: Investor China hingga AS Minat Investasi Kripto di Indonesia

Kurang dari dua tahun setelah peluncurannya yang didukung oleh Binance, pasar kripto terbesar di dunia. Kemudian pada bulan April, koin kripto WRX mencapai valuasi hingga miliaran dolar.

 Namun perjalanan trio tersebut pertama kali dilakukan dengan berbisnis lewat media sosial.

"Sejarahnya bermula dari media sosial. Jika anda memiliki akun Twitter atau Instagram, anda dapat mengelolanya dari satu tempat, "ujar Shetty, yang memulai bisnis pertamanya pada 2010, tidak lama setelah menyelesaikan gelar di bidang sains komputernya.

Ide tersebut, belakangan disebut Crowdfire, dikembangkannya. Namun tidak lama kemudian, para raksasa media sosial menjadi lebih membatasi tampilan antarmuka di aplikasinya sehingga mempersulit pengembang pihak ketiga untuk mengembangkan bisnis mereka. Maka Shetty dan rekan-rekannya akhirnya memutuskan sudah waktunya untuk mengubah kebijaksanaan.

"Kami harus mengurangi beberapa fitur yang menghasilkan pendapatan bagi kami tetapi justru tidak dianggap sebagai fitur yang tepat oleh jaringan ini," kata Shetty.

"Inilah yang membuat saya membangun seluruh ekosistem yang berbasis desentralisasi," lanjutnya. Dia merujuk pada blockchain basis data yang tersebar yang tidak dikendalikan oleh kelompok atau perusahaan manapun.

Ekspansi ke kripto

Momentum mereka bertepatan dengan booming mata uang kripto, dan khususnya bitcoin. Lalu di tahun 2018, Shetty dan rekan-rekannya memutuskan untuk menggunakan keahlian teknologi mereka untuk membuat sebuah platform berbasis blockchain untuk perdagangan kripto.

"Saya menyadari ada kesenjangan besar dalam cara pertukaran internasional yang dioperasikan dibandingkan dengan cara kerja pertukaran india," lanjutnya. "Dengan itu, kami memutuskan untuk membangun pertukaran yang berfokus pada ekosistem india."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini