Kopi Robusta dan Arabika Bisa Jadi Andalan Ekspor

Antara, Jurnalis · Selasa 13 Juli 2021 07:48 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 13 455 2439726 kopi-robusta-dan-arabika-bisa-jadi-andalan-ekspor-o7927Jwlw6.jpg Kopi Jadi Andalan Ekspor (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Produk unggulan kopi arabika (Java preanger) dan robusta asal petani kopi Subang bisa menjadi andalan ekspor. Para petani kopi yang jumlahnya lebih dari 200 orang dan bernaung di bawah binaan Koperasi Gunung Luhur Berkah di Subang itu akan mendapatkan program pelatihan dan pendampingan dari LPEI selama enam bulan.

Programnya meliputi pelatihan mengenai teknik budi daya dan pengolahan kopi, perluasan akses pasar ekspor, penyusunan laporan keuangan, dan peningkatan kapasitas produksi, dan LPEI akan bekerja sama dengan Koperasi Gunung Luhur Berkah (GLB) dalam proses pendampingan.

Baca Juga:Ketika Sri Mulyani Terpikat Masuk ke 'Dunia Kopi' Pak Suradi

Pendampingan akan diberikan kepada petani di enam desa yaitu Cisalak, Nagrak, Cupunagara, Darmaga, Sukakerti, dan Pasanggrahan dengan produk unggulan kopi arabika (Java preanger) dan robusta.

Penerima manfaat langsung dari program pendampingan ini mencapai 208 petani kopi. Kapasitas produksi keenam desa mencapai lebih dari 100 ton biji kopi setiap tahunnya dengan luas kebun 140 hektare.

Baca Juga: Penjualan Kopi Bubuk hingga Biji Laris Manis Selama Pandemi Covid-19

Direktur Eksekutif LPEI D James Rompas mengatakan LPEI atau Indonesia Eximbank kini tengah mengembangkan desa devisa ketiga di Kabupaten Subang, Jawa Barat, guna memberikan pendampingan dan pengembangan kapasitas pelaku usaha berorientasi ekspor di wilayah tersebut.

"Kami cukup yakin dengan potensi Subang dengan komoditas kopinya dan berharap melalui program pelatihan selama enam bulan ke depan dapat meningkatkan kapasitas petani, sehingga kualitas biji kopinya juga dapat memenuhi kebutuhan ekspor," ujar James dilansir dari Antara, Selasa (13/7/2021).

Sementara Ketua Koperasi GLB Miftahudin Shaf menyampaikan, masyarakat telah bertani kopi dalam jangka waktu yang panjang dan tidak pernah terbayang bahwa produknya dapat diekspor.

"Kami tentu berharap dengan program desa devisa, kopi kita dapat diekspor, terkenal hingga mancanegara dan petani dapat merasakan manfaat ekonomi dan sosial secara langsung," ujarnya.

Program desa devisa membangun sinergi yang mengedepankan aspek koordinasi antarlembaga.

Selain dengan pemerintah daerah dan koperasi setempat, LPEI juga bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN) dalam proses penjajakan Desa Devisa Kopi Subang.

Kolaborasi sejumlah institusi pusat dan daerah itu juga diharapkan dapat memperkuat program pendampingan yang akan diberikan.

Sebelumnya, LPEI telah berhasil membentuk dua desa devisa yaitu Desa Devisa Kakao di Jembrana, Bali, dengan komoditas unggulan berupa biji kakao yang difermentasi dan Desa Devisa Kerajinan di Bantul, Yogyakarta dengan produk kerajinan ramah lingkungan yang telah mampu melakukan ekspor secara berkelanjutan ke Eropa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini