Kisah Petani Kopi Raup Cuan hingga Bangun Peternakan Kambing

Avirista Midaada, Jurnalis · Jum'at 16 Juli 2021 14:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 16 455 2441656 kisah-petani-kopi-raup-cuan-hingga-bangun-peternakan-kambing-w0di4XCreV.jpg Pendapatan Petani Kopi di Malang Tetap Meningkat meski PPKM Darurat. (Foto: Okezone.com/Avirista)

MALANG - Pandemi virus corona tidak selalu berdampak negatif. Seperti petani kopi di Malang yang justru mengalami peningkatan penadapatan.

Petani Kopi Sumbermanjing Wetan, Bakri menyebut, pandemi Covid-19 dan pemberlakuan PPKM darurat tak berimbas banyak kepada usaha budidaya kopinya dan sistem distribusi penjualannya.

"Kami tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini karena masing-masing kelompok tani kopi di desa kami mengembangkan budidaya kopi dan tanaman pangan lainnya. Karena itu, kami dapat mengambil kebutuhan pangan dari kebun sendiri, seperti sayur dan buah-buahan, dan menjualnya jika berlebih,” ujar Bakri, petani kopi di daerah Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, pada Jumat (16/7/2021).

Tak hanya berkebun, ia dan beberapa petani kopi lainnya di Sumbermanjing Wetan juga mengembangkan peternakan kambing dan lebah, serta mengembangkan kegiatan diversifikasi lainnya di kebun miliknya. Hasilnya mereka mendapatkan madu, membuat pupuk kompos dari campuran kotoran kambing dan kulit biji kopi, membuat bibit kopi dan juga menyewakan pengeringan biji kopi.

Baca Juga: Budidaya Cacing Sutra Tanpa Lumpur, Ini Caranya

“Meskipun sedang dalam keadaan pandemi, sampai saat ini permintaan bibit kopi dari luar wilayah Sumbermanjing Wetan selalu ada. Bahkan kami sering mengejar produksi untuk memenuhi target permintaan hingga 10.000 bibit. Satu bibitnya dijual sekitar Rp5.000, sehingga bisa menjadi pendapatan utama kami, ketika bijih kopi belum bisa dipanen,” jelasnya.

Sebagai pengembangan kebunnya, Bakri menyebut ia dan beberapa petani kopi lainnya kerap kali mendapat pengetahuan baru dari Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH) bersama dengan PT Asal Jaya, perusahaan eksportir kopi nasional di Jawa Timur sejak tahun 2016 hingga 2021.

“Selama lima tahun, saya dan 15.000 petani kopi lainya di AMSTIRDAM dilatih mengenai teknik dalam memanen, seperti cara memetik cherry merah, pasca panen seperti pengeringan biji dan sortasi, sampai mengolahnya menjadi produk yang siap dikonsumsi," tuturnya.

Baca Juga: Kasus Kematian Corona Melonjak, Pengusaha Peti Mati Kewalahan

Selain itu ia dan rekan - rekannya juga diajarkan bagaimana caranya bertani dengan sistem tumpang sari dengan menanam jahe juga di area yang sama.

"Kami juga diajarkan untuk bertanam tumpang sari dengan jahe, mengembangkan organisasi petani, manajemen keuangan, dan kesempatan praktik dalam perkebunan percontohan dengan ekosistem terintegrasi untuk mengembangkan budidaya kopi berkelanjutan,” ungkap dia.

Dia mengungkapkan, bahwa tidak hanya bercocok tanam, para petani perempuan juga tergabung dalam kelompok

wanita tani (KWT), diajarkan untuk belajar membatik, memelihara bunga, dan sayur-sayuran untuk dikonsumsi masyarakat.

Bakri mengakui sebelum adanya pelatihan, para petani di Amstirdam ini masih bercocok tanam dengan pengetahuan yang terbatas, dan menggunakan cara yang diwariskan orang tua sebelumnya, yaitu dengan sistem monokultur atau satu jenis tanaman kopi saja. Hal ini disebutnya mengakibatkan kualitas biji kopi yang dihasilkan dari masing-masing kebun masih beragam dan nilai jualnya menjadi rendah. 

“Kini upaya pembelajaran kami selama lima tahun telah teruji dengan pandemi sekaligus perubahan iklim. Alhamdullilah, sampai saat ini kami masih bisa berkebun dan memenuhi kebutuhan keluarga kami," bebernya.

Kini Bakri tinggal merasakan bagaimana peningkatan produktivitas kebun kopi miliknya. Apalagi di saat bersamaan perusahaan PT Asal Jaya juga menjadi pembeli utama produk - produk kopi dari wilayah Amstirdam.

"Produktivitas kebun kopi kami juga meningkat sekitar 11 persen, dimana PT Asal Jaya menjadi pembeli utama. Berbekal pengetahuan yang dimiliki, ke depannya kami akan meningkatkan biji kopi yang lebih baik dan menurunkan ilmu ini kepada anak cucu kami, untuk mencegah kepunahan kopi,” jelasnya.

Dampak pelatihan dan peningkatan kapasitas juga dirasakan Yurniati, petani kopi perempuan asal Ampelgading, Kabupaten Malang. Saat ini, ia dan kelompok petaninya yang disebut dengan Sustainable Agriculture Business Cluster (SABC) Tawangagung memiliki unit usaha simpan pinjam bagi anggotanya.

“Dana usaha simpan pinjam ini dapat digunakan oleh anggota SABC untuk menjadi modal perkebunan mereka, atau bisa digunakan untuk kebutuhan keluarga. Contohnya seperti pinjaman untuk biaya pengobatan Covid-19,” terangnya.

Sementara itu Ketua SABC Tawangagung, Ampelgading, mengungkapkan, sebelum mendapatkan program pelatihan dan pendampingan, aktivitas yang dilakukan kelompok tani sangat kurang sekali. Saat ini di bawah kepemimpinannya, kelompok tani dapat memproduksi dan menjual pupuk kompos yang dibuat bersama, hingga mendapatkan sertifikasi SDM Organik untuk produksi pupuknya.

“Saya sebagai perempuan merasa diberikan kepercayaan yang cukup baik dari pelatihan ini sehingga dapat mendorong petani perempuan lainnya untuk aktif dalam kegiatan serupa. Selain memproduksi pupuk, kelompok tani kami juga membuka usaha pembibitan kopi yang kami gunakan sendiri dan untuk dijual,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini