Usai Pandemi, Warga Terjerat Utang Rp377 Juta untuk Bayar RS

Agregasi VOA, Jurnalis · Selasa 27 Juli 2021 19:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 27 320 2446911 usai-pandemi-warga-terjerat-utang-rp377-juta-untuk-bayar-rs-8N0kGOoyXA.png Warga Terjerat Utang Rp377 Juta (Foto: VOA Indonesia/AP)

JAKARTA - Ketika kasus virus corona atau Covid-19 melanda India musim semi ini, Anil Sharma menengok Saurav, putranya yang berusia 24 tahun yang dirawat di sebuah rumah sakit swasta di barat laut New Delhi, setiap hari selama lebih dari dua bulan.

Pada Mei, ketika jumlah kasus baru COVID-19 di India memecahkan rekor dunia yang mencapai 400 ribu per hari, Saurav dipasangkan ventilator.

Saurav sudah kembali ke rumah sekarang. Kondisinya masih lemah dan dalam masa pemulihan. Namun kegembiraan keluarga itu dibayangi oleh segunung utang yang menumpuk saat dia sakit.

Baca Juga: Tunggak Pembayaran RS Covid-19 Rp2,6 Triliun, Sri Mulyani: Dalam Proses

Kehidupan sementara telah kembali normal di India karena jumlah kasus virus corona telah menurun. Namun, Associated Press melaporkan jutaan orang terjerumus ke dalam mimpi buruk tumpukan besar tagihan medis. Sebagian besar orang India tidak memiliki asuransi kesehatan dan biaya untuk perawatan COVID-19 sehingga mengakibatkan mereka tenggelam dalam utang.

Sharma menguras tabungannya untuk membayar ambulans, tes, obat-obatan, dan tempat tidur di unit perawatan intensif (Intensive Care Unit/ICU). Kemudian dia pun harus mengambil pinjaman bank.

Ketika biaya meningkat, dia meminjam dari teman dan kerabat. Kemudian, dia mencoba mencari bantuan dari masyarakat melalui Ketto, situs web urun dana (crowdfunding) di India. Secara keseluruhan, Sharma mengatakan dia telah membayar lebih dari USD50 ribu atau setara Rp725 juta (kurs Rp14.500 per USD) untuk tagihan medis.

Dari hasil urun dana, Sharma mendapat USD28 ribu atau Rp406 juta. Namun, masih tersisa USD26 ribu atau Rp377 juta uang pinjaman yang harus dia lunasi. Ini adalah jumlah utang yang belum pernah dia hadapi sebelumnya.

“Dia berjuang untuk hidupnya dan kami berjuang untuk memberinya kesempatan untuk bertahan hidup,” katanya, suaranya kental dengan emosi.

“Saya adalah seorang ayah yang bangga – dan sekarang saya menjadi seorang pengemis.” Demikian seperti dilansir VOA Indonesia, Jakarta, Selasa (27/7/2021).

Pandemi telah menghancurkan perekonomian India, membawa bencana keuangan bagi jutaan orang karena sistem perawatan kesehatannya yang mengalami kekurangan dana kronis dan terpisah-pisah. Para pakar mengatakan biaya-biaya seperti itu pasti akan menghambat pemulihan ekonomi.

“Apa yang kita miliki adalah selimut tambal sulam dari asuransi publik yang tidak lengkap dan sistem kesehatan masyarakat yang buruk,” kata Vivek Dehejia, seorang ekonom yang mempelajari kebijakan publik di India.

Bahkan sebelum pandemi, akses layanan kesehatan di India menjadi masalah.

Orang India membayar sekitar 63% dari biaya pengobatan mereka dengan dana pribadi. Sistem tersebut banyak diterapkan di negara miskin dengan layanan pemerintah yang tidak memadai. Data tentang biaya medis pribadi global dari pandemi sulit didapat, tetapi di India dan banyak negara lain, perawatan untuk COVID adalah beban tambahan yang sangat besar pada saat ratusan juta pekerjaan telah hilang.

Di India, banyak pekerjaan kembali normal ketika kota-kota dibuka setelah penguncian ketat pada Maret 2020. Namun para ekonom khawatir tentang hilangnya sekitar 12 juta posisi bergaji. Pekerjaan Sharma sebagai profesional pemasaran adalah salah satunya.

Pandemi telah mendorong 32 juta orang India keluar dari kelas menengah, yang didefinisikan sebagai mereka yang berpenghasilan USD10 hingga USD20 per hari, menurut sebuah studi Pew Research Center yang diterbitkan pada bulan Maret. Diperkirakan krisis telah meningkatkan jumlah orang miskin India menjadi 75 juta. Orang yang masuk kategori kelompok miskin adalah orang-orang berpenghasilan USD2 atau kurang per hari.

“Jika Anda melihat apa yang mendorong orang ke dalam utang atau kemiskinan, dua sumber teratas sering kali adalah pengeluaran kesehatan yang dibiayai sendiri dan biaya pengobatan yang sangat besar,” kata K Srinath Reddy, Presiden Yayasan Kesehatan Masyarakat India.

Skema asuransi kesehatan yang diluncurkan oleh Perdana Menteri Narendra Modi pada 2018 dimaksudkan untuk menalangi kebutuhan 500 juta dari 1,3 miliar penduduk India. Skema itu merupakan langkah besar menuju pengurangan biaya medis. Namun hal ini tidak mencakup perawatan kesehatan dasar dan biaya rawat jalan yang terdiri dari sebagian besar biaya itu sendiri.

Jadi itu belum “secara efektif meningkatkan akses ke perawatan dan perlindungan risiko keuangan,” kata sebuah makalah kerja oleh para peneliti di Duke University.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini