Cerita Pedagang Tanah Abang Kesulitan Jualan, Ingin Untung dari Online tapi...

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis · Kamis 29 Juli 2021 21:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 29 455 2448074 cerita-pedagang-tanah-abang-kesulitan-jualan-ingin-untung-dari-online-tapi-2MB9IO7eWN.png Cerita Pedagang di Pasar Tanah Abang (Foto: MNC Portal Indonesia)

JAKARTA - Kebijakan PPKM akibat pandemi Covid-19 membuat pedagang gigit jari. Salah satunya pedagang di Pasar Tanah Abang yang mengalami penurunan omzet sangat dalam.

Penurunan omzet tersebut membuat tidak jarang pemilik kios di pasar Tanah Abang menjual kiosnya atau disewakan sementara. Harga yang ditawarkan pun jauh berbeda dengan harga beli atau sewa kios sebelum dilanda pandemi Covid 19.

Bahkan banyak yang menjual atau menyewakan kios mereka dengan harga yang tidak sampai setengahnya dengan harga beli kios. Penjualan kios di Pasar Tanah Abang juga disebabkan oleh perpindahan transaksi masyarakat yang memilih berbelanja secara online di tengah panbemi.

Baca Juga: 6,5 Juta UMKM Pindah ke Digital Selama Pandemi

Salah satu pedagang di Pasar Tanah abang, Syafril (68) menceritakan bagaimana dirinya kesulitan untuk mengikuti tren transaksi digital. Menurutnya, menjual barang melalu toko online tidak semudah dengan dagang di pasar tradisional. Mengingat umur syafril yang sudah tergolong tua.

"Jadi online ini kalau orang-orang yang umur kayak saya yang susah. Kalau yang anak muda enak dia. Apalagi kan enggak bayar toko," ujar Syafril kepada MNC Portal Indonesia, Jakarta, Kamis (29/7/2021).

Syafril mengaku bahwa dirinya pernah mencoba menjajakkan barang dagangannya melalui toko online, namun seminggu berselang, barang dagangannya hanya terjual satu saja.

"Saya pernyah coba online juga, dikasih tahu sama teman saya, ya seminggu cuma laku satu. Jadi susah, namanya kita itu enggak bisa," katanya.

Kini Syafril harus berusaha lebih untuk menutupi sewa kios meski pelanggan yang berbelanja di tokonya tak seramai sebelum pandemi covid 19.

Syafril menyebut, sebelum penerapan PPKM berlevel ini, dirinya bisa meraup omzet hingga Rp500 ribu per hari, namun kondisi saat ini berbanding terbalik dengan apa yang pernah didapatkannya.

"Boro-boro beli, yang lewat saja tidak ada, Sebelum PPKM itu Rp500 ribu sampai Rp300 ribu ada juga. Sekarang, sudah dua hari saya dagang, satu potong pun, tidak ada yang laku," keluhnya.

Kini Syafril hanya berharap kepada pemerintah membantu pedagang kecil untuk tetap bertahan meski berjualan secara konvensional.

"Namanya untuk nutup kios, ya pinjam sana, pinjam sini, yang enggak bisa dilakukan, dilakukan sekarang. Kita mau makan, enggak ada duit, kita gadai sama tetangga dulu, kita pinjam duit dulu, kita dapat makan yang penting, anak cucu makan, jangan sampai enggak makan," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini