Dolar AS Melemah terhadap Euro dan Poundsterling

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 30 Juli 2021 08:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 30 278 2448204 dolar-as-melemah-terhadap-euro-dan-poundsterling-dVV6m7xGUs.jpg Dolar Amerika Serikat. (Foto: Okezone.com)

NEW YORK - Dolar AS melemah ke level terendah dalam satu bulan ini di perdagangan Kamis. Sehari setelah Federal Reserve AS menyatakan belum tiba saatnya untuk melonggarkan stimulus moneter, dolar AS rally dalam sebulan ini.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang lainnya, turun 0,383% pada level 91,905 atau terendah sejak 29 Juni. Euro naik 0,35% terhadap dolar menjadi USD1,1885.

Baca Juga: Dianggap Aset Paling Aman, Dolar AS Naik ke Level Tertinggi

"Kekuasaan dolar atas euro tampaknya berakhir karena The Fed. Ekonomi perlahan-lahan mencapai kemajuan substansial di pasar tenaga kerja," kata Analis Pasar Senior Amerika OANDA, Edward Moya, dilansir dari Reuters, Jumat (30/1/2021).

Meski demikian, indeks dolar AS masih naik 1,6% sejak pertemuan Fed pada Juni. Keputusan hawkish bank sentral AS memberi sedikit dukungan.

Baca Juga: Dolar AS Lesu Sikapi Kebijakan The Fed

Data menunjukkan bahwa ekonomi AS tumbuh solid pada kuartal kedua, didorong bantuan pemerintah. Pertumbuhan ini pun jauh dari ekspektasi para ekonom.

"Dengan dolar yang sudah di bawah tekanan hari ini karena lingkungan risiko stabil dan pasar menerima retorika dovish dari Ketua Fed Jerome Powell kemarin. Penurunan hampir 2% di PDB Q2 tidak banyak membantu meringankan greenback," kata , Analis Pasar Senior FX, Simon Harvey.

Sementara itu, imbal hasil Treasury AS cenderung lebih rendah setelah pernyataan Fed. Imbal hasil riil yang disesuaikan dengan inflasi jatuh ke level terendah baru, membebani mata uang AS.

“Jika kurva imbal hasil terus meningkat secara perlahan dengan selera risiko tetap ada, penurunan dolar dapat meningkat dalam beberapa minggu mendatang,” kata Moya.

Di sisi lain, Dolar Australia dan Selandia Baru, masing-masing naik 0,33% dan 0,7%. Dolar AS juga lebih lemah pada pound Inggris, karena penurunan kasus virus corona di Inggris mengangkat mata uang tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini