Pengusaha Ritel Ingin Dijadikan Sektor Prioritas, Ini Manfaatnya

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Sabtu 31 Juli 2021 15:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 31 320 2448933 pengusaha-ritel-ingin-dijadikan-sektor-prioritas-ini-manfaatnya-H8BbaSDAsL.jpg Ritel Minta Dijadikan Sektor Prioritas. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) meminta pemerintah memasukkan sektor ritel sebagai sektor prioritas. Pasalnya, perdagangan ritel memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.

Menurut Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey, sektor ritel sulit mendapatkan akses fasilitas restrukturisasi kredit dan insentif lainnya karena tidak masuk dalam sektor prioritas.

Baca Juga: Sertifikat Vaksin Syarat Masuk Mal? Pengusaha Bilang Begini

"Kami di sektor yang memberikan kontribusi terhadap konsumsi rumah tangga sering kali prihatin karena kami tidak dan belum jadi sektor prioritas untuk dibantu maupun diberikan insentif," ujarnya dalam diskusi Polemik MNC Trijaya, Sabtu (31/7/2021).

Menurut dia, selama ini yang menjadi sektor prioritas adalah sektor kesehatan, telekomunikasi, pariwisata, ketahanan pangan, produksi, namun pedagang eceran atau pedagang ritel sampai hari ini belum mendapatkan status sektor prioritas. Hal ini membuat pengusaha ritel sulit mendapatkan restrukturisasi kredit bahkan level playing field yang sama dengan sektor lain.

Baca Juga: 2.040 Ritel Bangkrut, Setiap Hari Ada 4 Toko Tutup

Dia juga menyayangkan pelaku usaha ritel yang tidak diajak komunikasi sebelumnya dalam perumusan kebijakan PPKM darurat. Akibatnya terjadi miskomunikasi dan multitafsir terhadap aturan pusat.

"Ada multitafsir dan inkonsistensi terhadap apa yang sudah diatur pemerintah pusat. Padahal kami sudah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat dan sudah divaksin semua. Jadi tinggal pengawasan dan penegakan hukum untuk membuat masyarakat disiplin," tuturnya.

Sementara itu, Roy Mandey mengungkapkan sepanjang April sampai Juli ada 2.040 anggota ritel modern Aprindo yang sudah menutup gerainya. Artinya, ada sekitar 4 toko setiap hari yang tutup.

"Ini belum termasuk toko kelontong yang di ruko-ruko yang memang bukan anggota kami. Kemudian yang ada di daerah, tidak hanya di pusat provinsi saja. Ini belum termasuk itu," ujarnya.

Roy mengatakan, sektor ritel saat ini hanya tinggal menghitung hari untuk beroperasi jika tidak ada keberpihakan dari pemerintah. Di sisi lain, insentif yang diberikan juga belum maksimal.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini