Amphuri Minta Syarat Karantina 14 Hari saat Umrah Dihilangkan

Anggie Ariesta, Jurnalis · Selasa 03 Agustus 2021 12:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 03 320 2450074 amphuri-minta-syarat-karantina-14-hari-saat-umrah-dihilangkan-1oUxUjFDHE.jpg Ibadah Haji (Foto: Okezone)

JAKARTA - Arab Saudi akan membuka penyelenggaraan umrah tahun 1443 H, namun ada sejumlah persyaratan yang memberatkan jemaah Indonesia yaitu karantina 14 hari. Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) meminta pemerintah untuk bernegosiasi ke pihak Arab Saudi terkait persyaratan karantina 14 hari di negara tansit dihilangkan.

Wakil Ketua Umum AMPHURI, Bungsu Sumawijaya mengatakan kebijakan karantina sebaiknya tidak usah mengingat sudah ada permintaan vaksin booster dari pemerintah Arab Saudi.

"Permintaan untuk karantina 14 hari di negara transit ini jadi kendala karena umroh jadi lebih lama, terus terang akan jadi kendala karena tadinya 8 hari jadi 30 hari," kata Bungsu dalam program Market Review IDX Channel, Jakarta, Selasa (3/8/2021).

Baca Juga: Ibadah Haji Dibatalkan, Pengusaha Travel Tagih Uang DP ke Maskapai Asing

Selain karantina 14 hari, diketahui pemerintah Arab Saudi juga mewajibkan jemaah umrah dari Indonesia disuntik vaksin dengan empat pilihan, yakni AstraZeneca, Moderna, Pfizer dan Johnson&Johnson. Sementara menurut Bungsu mayoritas masyarakat Indonesia menerima vaksin Sinovac, maka itu pihaknya meminta ada vaksin booster atau dosis ketiga ke pemerintah.

Baca Juga: AMPHURI Hormati Keputusan Pemerintah Tidak Berangkatkan Calon Jamaah Haji

"Jadi kita kan umumnya Sinovac, pemerintah Arab Saudi memberi kebijaksanaan nah harus ada booster nya dari 4 itu karena kita dari asosiasi sudah bekoordinasi ke Kemenag meminta untuk jemaah umroh dibantu untuk vaksin ketiga," jelasnya.

Padahal untuk pelaksanaan umrah bukan hal baru ada kewajiban vaksinasi karena dulu selalu harus vaksin meningitis. Maka itu, AMPHURI saat ini terus mendesak pemerintah agar melakukan negosiasi terkait karantina 14 hari dibanding vaksin booster.

Bungsu mencontohkan keadaan dengan Malaysia yang bisa direct langsung tanpa karantina, padahal kasus harian Covid-19 disana lebih banyak dibanding Indonesia.

"Covid disini kan sudah membaik, sudah melandai, jumlah yang divaksin semakin banyak. Dibanding Malaysia bisa direct langsung sementara mereka 30.000/1 juta penduduk kasusnya," ujar dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini