Ketua OJK Sebut Ada Efek Samping Penumpukan Dana di Perbankan

Michelle Natalia, Jurnalis · Selasa 03 Agustus 2021 13:22 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 03 320 2450120 ketua-ojk-sebut-ada-efek-samping-penumpukan-dana-di-perbankan-dMjHBKnTxv.jpg Ketua OJK Wimboh Santoso. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan bahwa dana masyarakat di perbankan bertambah seiring dengan kucuran insentif yang diberikan pemerintah dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Sebelumnya pada 2020, anggaran PEN mencapai Rp695 triliun namun di tahun ini mencapai Rp744 triliun.

“Tidak heran dana di perbankan melimpah, pertumbuhannya year on year di Juli kemarin 11,28%. Sebelum Covid-19 pertumbuhan dana masyarakat itu hanya 6%-7%," ujarnya dalam Opening Like It (Literasi Keuangan Indonesia Terdepan) secara virtual, Selasa (3/8/2021).

Baca Juga: Ketua OJK: Permodalan Lembaga Jasa Keuangan Level Memadai

Hal ini menandakan likuiditas perbankan berlimpah sehingga mempengaruhi suku bunga simpanan yang menurun. Dia pun mengatakan suku bunga deposito berjangka 1 tahun biasanya sekitar 7%, namun sekarang turun menjadi 5%, bahkan ada bank yang menawarkan di bawah 4%.

“Artinya, masyarakat simpanannya naik tapi bunganya turun. Sehingga masyarakat pasti mencari alternatif investasi lainnya,” terang Wimboh.

Baca Juga: Simpanan Masyarakat Tembus Rp6.723 Triliun, Paling Banyak di Jakarta

Namun di sisi lain, Wimboh menyebut bahayanya dari mencari alternatif investasi ini, banyak instrumen-instrumen yang menawarkan baik melalui pasar modal maupun di luar pasar modal. Resikonya terutama bagi masyarakat yang tidak melalui pasar modal akan mendapatkan suku bunga yang lebih tinggi.

Terkait hal itu, Wimboh mengingatkan agar masyarakat harus hati-hati jangan sampai hanya tertarik pada pendapatan yang tinggi. Sebab melihat jumlah investor di pasar modal meningkat signifikan.

“Masyarakat juga perlu hati-hati memilih instrumen di pasar modal karena bisa jadi bahwa supply dan demand di pasar modal ini tidak balance, itu akan menimbulkan volatile harga di pasar modal dan sangat berpotensi untuk menjadi spekulasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” tutur Wimboh.

Oleh karena itu, Wimboh menambahkan (OJK) bersama dengan pihak terkait terus berupaya meningkatkan pemberian edukasi serta literasi kepada masyarakat mengenai pasar uang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini