Kekayaan Ma Huateng Lenyap Rp46 Triliun dalam Sehari Gegara Artikel Game Online

Aditya Pratama, Jurnalis · Rabu 04 Agustus 2021 11:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 04 455 2450646 kekayaan-ma-huateng-lenyap-rp46-triliun-dalam-sehari-gegara-artikel-game-online-8qUjVb0w5N.jpg CEO Tencent Ma Huateng (Foto: Quartz)

JAKARTA - Orang terkaya asal China, Ma Huateng kehilangan kekayaannya sebesar 3,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau Rp46 triliun dalam sehari.

Kekayaan Ma Huateng atau yang juga dikenal dengan Pony Ma terjadi setelah media pemerintah mengecam game online, sehingga memicu kekhawatiran investor terhadap raksasa video game Tencent dan lainnya bakal berada di bawah pengawasan ketat regulator China.

Saham Tencent di Bursa Hong Kong anjlok 6 persen pada Selasa (3/8/2021) setelah merosot 11 persen ketika artikel tersebut pertama kali terbit pada hari yang sama.

Baca Juga: Jeff Bezos 'Jatuh Miskin', Kekayaannya Lenyap Rp201 Triliun dalam Sehari

Artikel yang diberitakan oleh salah satu unit dari Kantor Berita Xinhua, itu menyalahkan game online karena menyebabkan kecanduan dan miopia. Bahkan menyamakannya dengan 'opium spiritual' dan obat-obatan elektronik'. Namun, artikel itu dihapus dari situs web tersebut, namun tetap terbit dalam versi cetak.

"Beberapa siswa menghabiskan delapan jam sehari bermain Honor of Kings (game besutan) Tencent. Tidak ada industri atau olahraga yang bisa berkembang dengan menghancurkan seluruh generasi," tulis artikel tersebut, seperti dilansir Forbes, Rabu (4/8/2021).

Baca Juga: Harta Orang Terkaya Singapura Lenyap Rp34,8 Triliun dalam Sehari

Seorang juru bicara Tencent mengatakan, perusahaan menolak berkomentar terkait hal tersebut.

Sementara raksasa game NetEase, yang sahamnya terdaftar di Hong Kong juga anjlok hampir 16 persen sebelum akhirnya ditutup terkoreksi 8 persen. Mereka juga enggan berkomentar.

Adapun pendiri NetEase William Lei Ding kehilangan 2,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp33 triliun. Sedangkan salah satu pendiri Tencent lainnya, Zhang Zhidong, kekayaannya turun 1,1 miliar dolar AS atau Rp15,8 triliun.

Kepala penelitian di DZT Research yang berbasis di Singapura Ke Yan mengatakan, aksi jual pada saham-saham video game mencerminkan kekhawatiran investor yang meningkat atas sikap regulator China yang mengambil tindakan keras terhadap perusahaan game.

"Kata-kata editorial Xinhua sangat negatif dan pasar benar-benar khawatir atas tindakan tersebut," kata Ke.

Setelah artikel itu terbit, Tencent menyoroti upayanya untuk melindungi anak di bawah umur. Dalam sebuah postingan di akun WeChat resminya, perusahaan menyatakan telah mengurangi jam bermain game maksimum pengguna di bawah umur pada hari kerja dari 1,5 jam menjadi 1 jam per hari, melarang siswa sekolah dasar melakukan pembelian game online, dan menerapkan langkah-langkah yang lebih ketat untuk mencegah anak di bawah umur menggunakan akun game orang dewasa.

Menurut DZT, pembelian game online oleh pengguna di bawah umur menyumbang kurang dari 15 persen terhadap industri game seluler China.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini