UMKM Bangkit di Tengah Pandemi Covid-19, Ini Buktinya

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 05 Agustus 2021 15:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 05 320 2451414 umkm-bangkit-di-tengah-pandemi-covid-19-ini-buktinya-xeVShcnEN8.jpg Kondisi UMKM pada Kuartal II-2021 Semakin Membaik. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengungkapkan, kondisi UMKM pada kuartal II-2021 semakin membaik. Dirinya pun optimistis, perekonomian Indonesia bisa kembali bangkit.

Mengutip hasil survei Mandiri Institute pada 2021, kondisi UMKM pada kuartal kedua 2021 membaik. 85% responden menyebut kondisi usaha mulai berjalan normal pada kuartal kedua.

Selain itu, 22% UMKM yang tadinya berhenti beroperasi sudah kembali beroperasi.

Baca Juga: Cair! Simak Syarat Dapat BLT UMKM Rp1,2 Juta

Menurut Teten, digitalisasi mempunyai peranan penting dalam pemulihan ekonomi nasional serta mendorong UMKM untuk terus berdaya. Survei yang dilakukan Bank Dunia pada 2021 menyebut, 80% UMKM yang sudah masuk ekosistem digital mempunyai daya tahan yang lebih baik.

“Survei yang dilakukan asosiasi e-commerce Indonesia juga menyebutkan bahwa selama pandemi telah terjadi kenaikan penjualan e-commerce sebesar 25 persen. Ini artinya masyarakat Indonesia terutama pelaku UKM telah keluar dari zona nyaman dan beradaptasi untuk bertahan. Namun, tantangan dan masalah dalam digitalisasi seperti kurangnya literasi digital serta akses pasar yang menjadi pekerjaan bersama yang perlu diselesaikan,” kata Teten, Kamis (5/8/2021).

Baca Juga: Insentif Fiskal Akselerasi UMKM Go Digital dan Go Global

Sementara itu, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia Sunarso mengungkapkan, ada 45 juta masyarakat termasuk pengusaha ultra mikro yang butuh pendanaan. Berdasarkan survei internal BRI, dari angka 45 juta tersebut baru 15 juta yang mendapatkan pelayanan dari lembaga keuangan.

“Jadi ada sekitar 5 juta yang meminjam dari rentenir dan 7 juta yang pinjam dari keluarga. Sisanya sama sekali belum mendapatkan layanan dari lembaga keuangan. Ini yang akan menjadi fokus BRI bagaimana mereka bisa mendapatkan pelayanan keuangan. Karena selama ini, banyak yang mengeluh sulit untuk mendapatkan pinjaman dari bank. Tapi ketika ditanya apakah sudah pernah mencoba pinjam ke bank, dijawab belum pernah,” ujar Sunarso.

Karena itu, kata Sunarso, BRI tidak melakukan advokasi kepada pengusaha ultramikro dan juga UMKM yang memerlukan pembiayaan. BRI melakukan edukasi antara lain bagaimana cara mengakses informasi, pasar dan juga permodalan.

Di sisi lain, BPJS Ketenagakerjaan atau BPJamsostek juga berusaha membantu UMKM naik kelas dari sisi perlindungan tenaga kerja. Direktur Kepesertaan BPJamsostek Zainuddin mengatakan, usaha kecil, mikro dan informal termasuk kategori yang rentan apabila terjadi risiko. Karena itu, negara berusaha untuk melindungi mereka.

“45% UMKM berhenti karena masalah modal, di masa pandemi ini karena masalah kesehatan yaitu tingkat kematian tinggi. Apabila pemilik meninggal maka akan terjadi multiplier effect. Di sini, BPJamsostek ingin hadir untuk memberikan perlindungan bagi pengusaha kecil, mikro dan informal,” jelas Zainuddin.

Zainuddin berharap UMKM bisa mendaftar menjadi peserta BPJamsostek sehingga mendapatkan perlindungan. Dia menjelaskan, UMKM yang ingin mendaftar tidak harus datang ke kantor BPJamsostek tetapi bisa melalui e-commerce. Pembayaran iuran juga bisa dilakukan secara daring.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini