Tak Putus Asa, Korban PHK Kini Jadi Pengusaha Wedang

Agregasi Solopos, Jurnalis · Selasa 17 Agustus 2021 20:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 17 455 2456941 tak-putus-asa-korban-phk-kini-jadi-pengusaha-wedang-BifYf19Tv7.jpeg Wedang Uwuh (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) tak membuat Agung Cahyo Nugroho putus asa. Bersama istrinya, Yayuk Susilowati, pria asal Klaten itu justru mampu berdikari.

Dia merintis usaha pembuatan minuman tradisional, wedang uwuh dengan brand Meuza. Berbekal ketekunan, pasutri asal Klaten ini pun mampu mengembangkan bisnis yang didirkan sejak empat tahun lalu.

Tak hanya memasarkan produknya di wilayah Soloraya, Cahyo bahkan juga menerima pesanan hingga ke luar Pulau Jawa seperti Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. “Dulu sebelum pandemi, bisa kirim sampai Bandung, Jakarta, Sulawesi, Kalimantan, hingga Papua. Tapi, yang paling sering pesan Bandung, Jakarta, sama Papua,” ujar Agung seperti dilansir Solopos Media Group, Selasa (17/8/2021).

Baca Juga: Kapasitas Mal Jadi 50%, Pengusaha Gembira

Agung mengaku awalnya tidak terpikir berkecimpung dalam bisnis minuman tradisional wedang uwuh. Awalnya, ia bekerja di dealer sepeda motor di Klaten. Namun pada 2018 lalu ia di-PHK dan menjadi pengangguran. Setelah di-PHK, Agung sempat bingung mau berwiraswasta di bidang apa.

Baca Juga: Masuk Mal dengan Beragam Syarat, Pengusaha: Itu Sudah Prosedur

“Kemudian, saya sama keluarga jalan-jalan ke Imogiri. Di sana dapat ide jualan wedang uwuh,” tuturnya.

Agung pun kemudian berusaha membuat wedang uwuh sendiri. Bahan-bahan pembuatan wedang uwuh seperti cengkeh, jahe, kayu manis, kapulaga, daun serai, hingga gula batu, ia peroleh di pasar terdekat.

Berburu Rempah

Namun, ia juga tidak segan berburu bahan rempah-rempah itu hingga ke perbatasan Wonogiri-Ponorogo. Alhasil, ia pun mampu meracik wedang uwuh yang diminati pasar. Ia biasa memasarkan produksnya secara konsinyasi, atau dititipkan ke toko-toko oleh-oleh, rumah makan, hingga apotek.

Satu paket produk wedang uwuh Meuza dipasarkan dengan harga Rp20.000. Namun, satu kemasan itu bisa digunakan untuk membuat 5 gelas wedang uwuh.

“Selain itu, wedang uwuh buatan kami bisa diseduh ulang. Jadi satu gelas bisa diseduh hingga tiga kali. Itu keunggulan produk Meuza dibanding yang lain,” ujar Agung.

Pria yang tinggal di RT 001/RW 002, Dusun Karangasem, Desa Jaten, Kecamatan Juwiring, Klaten itu mengaku omzet dari berjualan wedang uwuh bisa mencapai Rp7 juta-Rp10 juta tiap bulannya sebelum pandemi. Omzetnya menurun drastis di masa pandemi ini. Pesanan dari luar Pulau Jawa, seperti Papua pun lambat laun menyusut.

“Sekarang sebulan bisa dapat omzet Rp4 juta saja sudah bagus. Apalagi, sekarang wisata masih ditutup. Toko oleh-oleh juga banyak yang sepi,” imbuhnya.

Meski demikian, Agung mengaku tidak kehilangan akal. Ia terus berusaha untuk mengembangkan bisnisnya di tengah pandemi Covid-19.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini