Kisah Mantan Buruh Jadi Bos Katering Pasok Makanan ke 16 Perusahaan Besar

Solopos.com, Jurnalis · Selasa 17 Agustus 2021 21:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 17 455 2456961 kisah-mantan-buruh-jadi-bos-katering-pasok-makanan-ke-16-perusahaan-besar-z7VNh3XCfy.jpg Pengusaha Sukses (Foto: Okezone)

JAKARTA - Berawal dari hobi memasak, pasangan suami istri (pasutri) asal Boyolali sukses menjadi pengusaha katering yang memasok makanan dan snack ke ribuan karyawan 16 perusahaan besar di kabupaten tersebut.

Pasutri itu adalah Djohan Krisna Setyawan, 40, dan Anidha Kurnia Pratama, 35, warga Kebakan, Metuk, Mojosongo, Boyolali. Pada 2009 silam, Djohan dan Anidha sama-sama bekerja di PT Pan Brothers Boyolali. Djohan bekerja sebagai buruh pabrik, sementara Anidha bekerja sebagai bidan yang memberi layanan kesehatan kepada buruh pabrik.

Baca Juga: Pengusaha Minta Seluruh Mal di Indonesia Dibuka, Apa Alasannya?

“Kami hanya karyawan biasa yang kebetulan suka memasak, bukan pintar masak sebenarnya. Awalnya beberapa teman sesama karyawan memesan menu makan siang. Kami melayani pakai tepak [wadah] plastik. Lalu, perusahaan kami ternyata butuh katering. Akhirnya, kami mengurus perizinan. Awalnya pesanan hanya 20 nasi bungkus/hari. Lalu berkembang ke pabrik lain. Sekarang rata-rata bisa melayani 10.000 nasi bungkus/hari,” papar Djohan seperti dilansir Solopos.com, Selasa (17/8/2021).

Ramahnya iklim investasi di Kota Susu, membuat banyak investor mendirikan pabrik di Boyolali. Setiap kali ada pabrik baru yang berdiri di Boyolali, Djohan selalu mendaftarkan Jeo Catering miliknya sebagai perusahaan penyedia jasa katering di perusahaan tersebut.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Pengusaha Harap PPKM Turun ke Level 3

Hingga akhirnya, Djohan yang didukung 82 karyawan bisa menjalin kerja sama dengan 16 perusahaan di Boyolali yang rata-rata mempekerjakan ribuan buruh.

Sempat Pakai Elpiji 3 Kg

“Di Pan Brothers Boyolali contohnya, di sana ada sekitar 25.000 karyawan yang bekerja dari pagi hingga malam. Kadang ada yang kerja lembur. Kebetulan kami menjadi salah satu yang menyuplai katering di sana,” ucapnya.

Awal merintis usaha jasa katering di Boyolali, Djohan masih memakai tabung elpiji ukuran 3 kg. Djohan sadar ia tidak mungkin terus menerus menggunakan tabung elpiji 3 kg untuk menjalankan bisnis katering. Sebab, tabung elpiji ukuran 3 kg bersubsidi itu diperuntukkan warga kurang mampu.

“Dulu pernah memakai tabung gas 3 kg, tapi fatal akibatnya. Sebab, kompor kami itu menyala selama 24 jam. Akhirnya, terjadi kebakaran sampai dua kali sekitar 2012. Dulu kurang safety karena untuk menyalakan 20 kompor, butuh 20 tabung gas yang dipasang dengan selang karet. Karena tabung gasnya hanya 3 kg, ya harus sering-sering diganti,” jelas Djohan.

Sampai akhirnya, Djohan beralih menggunakan tabung gas ukuran 12 kg dan 5,5 kg. Dalam sebulan, rata-rata Djohan menghabiskan sekitar 300 tabung gas ukuran 12 kg.

Ia juga menyarankan teman-temannya sesama pengusaha katering di Boyolali beralih ke tabung gas ukuran 12 kg. Walau lebih mahal, penggunaan tabung gas ukuran 12 kg jauh lebih aman bila kompor dipakai dalam waktu yang cukup lama.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini