Investasi PLTA Kayan Rp256 Triliun, Manfaatkan 5 Bendungan untuk Produksi Listrik

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 18 Agustus 2021 15:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 18 470 2457320 investasi-plta-kayan-rp256-triliun-manfaatkan-5-bendungan-untuk-produksi-listrik-9PwJxxnZNr.jpg PLTA Kayan Manfaatkan 5 Bendungan (Foto: Istimewa)

JAKARTA - Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kayan Cascade memanfaatkan area sepanjang sungai Kayan. Terdiri atas 5 bendungan dengan 5–6 unit turbin pembangkit pada tiap bendungannya.

Tahap pertama PLTA Kayan Cascade berkapasitas 900 megawatt (mw), tahap kedua 1.200 mw, tahap ketiga dan keempat masing-masing 1.800 mw dan tahap kelima 3.300 mw. Nilai investasi KHE untuk PLTA ini mencapai USD17,8 miliar atau setara Rp256,3 triliun (kurs Rp14.400 per USD).

"Listrik yang dihasilkan dari PLTA tersebut akan dimanfaatkan untuk kebutuhan industri dan pelabuhan,” kata Direktur Operasional PT Kayan Hydro Energy (KHE) Khaeroni dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Rabu (18/8/2021).

 

Baca Juga: Menko Luhut: Proyek Industri Hijau Terbesar Dunia Bakal Ada di RI

Mengutip pidato Presiden Jokowi pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD pada 16 Agustus 2021 mengatakan transformasi menuju energi baru dan terbarukan, serta akselerasi ekonomi berbasis teknologi hijau, akan menjadi perubahan penting dalam perekonomian Indonesia.

"Ini tepat sekali. Sesuai dengan harapan yang diucapkan Presiden saat pidato kenegaraan kemarin, KHE mengembangkan pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kayan Cascade yang akan berkontribusi besar terhadap penurunan emisi gas rumah kaca dunia," katanya.

PLTA Kayan Cascade yang dipelopori oleh KHE dimulai sejak tahun 2011. Di samping itu, listrik yang dihasilkan Kayan Cascade ini bisa diserap oleh kawasan industri Tanah Kuning. Di sana terdapat pabrik pengolahan biji nikel, baja, aluminium serta pelabuhan internasional yang ada di Kaltara. Bahkan bisa mensuplai ke ibukota negara baru di Kalimantan Timur.

Lebih lanjut Khaeroni mengatakan, proyek Kayan Cascade sebetulnya merupakan bagian dari konsep Kaltara Integrated Green Economic Zone yang mencakup 4.686 hektar milik PT Indonesia Strategis Industri (ISI), perusahaan pengelola kawasan industri yang menjadi bagian dari Kawasan Industri Hijau yang terintegrasi dengan Pelabuhan Internasional Indonesia.

“Proyek PLTA ini ditargetkan beroperasi secara komersial pada 2025," tandasnya.

KHE mendukung proyek tersebut untuk menghasilkan sumber listrik EBT yang ramah lingkungan. Kawasan Industri Hijau tersebut akan dikembangkan dan dikelola oleh PT ISI.

Pengelola juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan berbagai tenant, di antaranya smelter aluminium PT Alum Ina Indonesia, pabrik baja PT Prime Steel Indonesia, smelter ferronickel PT Nickel Industri Indonesia, pabrik kendaraan listrik PT Indonesia Emobil Industri, dan partner pembuat baterainya, PT General Battery Indonesia.

"Listrik PLTA bukan hanya ramah lingkungan tapi juga sangat bisa bersaing dengan listrik yang dihasilkan dari energi fosil,” pungkas Khaeroni.

Mengutip data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kapasitas terpasang pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) hingga Mei 2021 baru sebesar 10.426 megawatt (mw). Dari besaran tersebut, PLTA menyumbang sebesar 4.701 mw ongrid dan 938 mw offgrid.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini