ADB Sebut Pendapatan UMKM Indonesia Masih Lesu

Antara, Jurnalis · Kamis 19 Agustus 2021 20:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 19 455 2458046 adb-sebut-pendapatan-umkm-indonesia-masih-lesu-iNKdu7IJQh.jpg ADB sebut pendapatan UMKM masih rendah (Foto: Reuters)

JAKARTA - Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia masih mengalami penurunan permintaan dan pendapatan pada 2021. Pendapatan masih rendah meskipun sebagian aktivitas usaha sudah kembali dibuka.

“Aktivitas usaha sudah kembali buka tapi pelaku UMKM masih menghadapi penurunan permintaan dan pendapatan yang tajam,” kata Senior Ekonomis Asian Development Bank (ADB) Shigehiro Shinozaki dilansir dari Antara, Kamis (19/8/2021).

Baca Juga: Menko Airlangga Dorong UMKM Tembus Pasar Ekspor

Berdasarkan data yang diperoleh dari survei yang melibatkan 2.509 pelaku UMKM Indonesia, ADB menemukan bahwa penutupan usaha mikro telah menurun dari 48% pada Maret-April 2020 menjadi lima% periode yang sama tahun 2021. Sementara itu, penutupan usaha kecil menurun dari 54,4% menjadi 1,8%, dan penutupan usaha menengah menurun dari 31,3% menjadi 6,3%.

Namun demikian pelaku UMKM yang mengalami penurunan permintaan domestik yang memengaruhi pendapatan masih meningkat. Usaha kecil yang mengalami penurunan permintaan domestik meningkat dari 27,9% pada Maret-April 2020 menjadi 60,2% di periode yang sama 2021, usaha kecil dari 40% menjadi 68,7%, dan usaha menengah dari 43,8% menjadi 64,6%.

Baca Juga: Jokowi Bangga Lebih dari 14 Juta UMKM Sudah Go Digital

“Beberapa pelaku UMKM telah berhasil mengatasi kondisi tanpa cash yang serius. Namun jumlah pelaku UMKM yang akan kehabisan modal kerja dalam 3-6 bulan ke depan mengalami peningkatan,” imbuhnya.

Dalam survei yang sama, hanya 28,1% pelaku usaha mikro, 10,1% pelaku usaha kecil, dan 6,3% pelaku usaha menengah, yang tercatat sudah tidak memiliki dana kas atau simpanan pada Maret-April 2021.

Persentase itu berkurang dibandingkan periode yang sama tahun lalu, di mana 55,8% pelaku usaha mikro, 40% pelaku usaha kecil, dan 31,3% pelaku usaha menengah, mengaku sudah tidak memiliki cash atau simpanan sama sekali.

Hanya saja Shigehiro mengatakan pemerintah harus memberikan perhatian kepada pelaku UMKM yang akan kehabisan modal kerja dalam 3-6 bulan ke depan karena jumlahnya meningkat.

Pada Maret-April 2020 ADB mencatat tidak ada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang mengaku akan kehabisan modal kerja dalam 3-6 bulan ke depan. Sementara itu jumlahnya menjadi 14,7% untuk pelaku usaha mikro, 18,9% untuk pelaku usaha kecil, dan 14,6% untuk pelaku usaha menengah pada Maret-April 2021.

“Pelaku UMKM sangat menginginkan akses terhadap pinjaman lunak, tetapi keinginan mereka itu berkurang saat akses kepada kredit bank meningkat. Subsidi usaha adalah langkah kebijakan teratas yang diinginkan,” ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini