Tantangan Industri Properti di Tengah Pandemi, Tingkat Suku Bunga KPR Jadi Batu Sandungan

Taufik Fajar, Jurnalis · Selasa 31 Agustus 2021 18:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 31 470 2464048 tantangan-industri-properti-di-tengah-pandemi-tingkat-suku-bunga-kpr-jadi-batu-sandungan-kDaKkeOyG1.jpg Industri Properti (Foto: Okezone)

JAKARTA - Industri properti mengalami tantangan di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya soal tingkat suku bunga yang menurut persepsi masyarakat makin dianggap sebagai hambatan.

Di mana 60 persen responden menganggap suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) saat ini berada pada level yang tinggi dan bahkan sangat tinggi. Angka ini naik tipis dari semester sebelumnya yang dinyatakan oleh 59 persen responden. Demikian dalam hasil Rumah.com Consumer Sentiment Study H2 2021 dikutip.

"Masih tingginya tingkat suku bunga KPR juga mengakibatkan tingginya besaran angsuran KPR yang harus dibayar tiap bulan sehingga menjadi hambatan yang dihadapi ketika mengambil KPR," kata Country Manager Rumah.com Marine Novita dalam risetnya, Jakarta, Selasa (31/8/2021).

Baca Juga: Insentif PPN Bikin Penjualan Rumah Laris Manis

 

Hal ini dinyatakan oleh sekitar sepertiga responden atau sejumlah 34 persen responden. Oleh karena itu mayoritas masyarakat mengharapkan pemerintah mengeluarkan kebijakan dan tindakan terutama agar bisa menurunkan suku bunga KPR. Hal ini dinyatakan oleh 88 persen responden dan merupakan kenaikan dari 85 persen responden pada semester sebelumnya.

Pemerintah sebenarnya telah merespon harapan masyarakat tersebut. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 18-19 Agustus 2021 lalu memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%.

Selain itu BI telah juga memutuskan untuk melonggarkan rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) Kredit/Pembiayaan Properti menjadi paling tinggi 100% untuk semua jenis properti. Stimulus terakhir adalah perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas pembelian rumah tapak dan rumah susun.

Menurut Marine, yang paling penting dari adanya kebijakan dan stimulus dari pemerintah tersebut adalah pelaksanaannya. Hal ini terlihat secara historis, langkah BI menurunkan suku bunga acuannya tidak langsung diikuti oleh kalangan perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit khususnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR), sehingga walaupun suku bunga BI sudah turun namun industri properti tidak bisa segera langsung merasakan dampaknya.

Sementara itu, walaupun pandemi masih berlangsung namun masyarakat mulai sadar bahwa papan atau hunian adalah kebutuhan pokok yang harus dibeli jika secara finansial sudah memadai dan bukan hal yang bisa ditunda terus menerus.

"Apalagi saat ini para pengembang juga sangat agresif menawarkan berbagai jenis hunian dan didukung berbagai kebijakan pemerintah yang memudahkan pembelian properti,” jelas Marine.

Marine menambahkan, dalam survei ini terlihat adanya penurunan kepuasan masyarakat terhadap iklim properti di Tanah Air. Setelah mengalami kenaikan pada semester sebelumnya, Sentiment Index pada semester kedua 2021 ini turun sebanyak 4 poin ke angka 69.

Penurunan Sentiment Index ini didorong tiga hal yaitu mahalnya harga properti, sulitnya mencari properti di lokasi yang diinginkan sesuai dengan anggaran yang tersedia dan tingginnya tingkat suku bunga KPR. Indeks Sentimen Konsumen ini adalah data longitudinal yang diambil menggambarkan indikasi optimisme, kepuasan, dan minat terhadap properti.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini