Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bengkak Rp69 Triliun, Kenapa?

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Kamis 02 September 2021 11:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 02 320 2464969 biaya-proyek-kereta-cepat-jakarta-bandung-bengkak-rp69-triliun-kenapa-tGY9Zy7Mgm.png Jembatan Kereta Cepat (Foto: Instagram)

JAKARTA - Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT KAI (Persero), Salusra Wijaya membeberkan perkara terjadinya pembengkakan biaya (cost overrun) proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) senilai USD4,9 miliar atau setara Rp 69 triliun.

Dari paparannya, penyebab utama cost overrun adalah biaya Capital Output Ratio (COR) untuk Engineering Procurement Construction (EPC) sebesar USD4,8 miliar atau senilai Rp 68 triliun.

Padahal, capital expenditure (capex) awal KCJB berada di angka USD6,07 miliar. Jumlah itu terdiri dari EPC USD4,8 miliar dan USD1,3 miliar untuk non-EPC.

"Kalau dibuat ringkasan, ini penyebab utama kenapa terjadi cost overrun. terbesar porsi COR di EPC," ujar Salusra dalam RDP bersama Komisi VI DPR, dikutip Kamis (2/9/2021).

Baca Juga: 5 Fakta Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Biaya Pembangunan Jadi Bengkak

Lalu pembebasan lahan. Dari kajian, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebagai konsorsium proyek KCJB, pembebasan lahan menjadi permasalahan pelik. Sebab, jalur kereta yang dibangun tercatat luas dan melewati kawasan komersial atau industri.

Akibatnya, konsorsium harus mengeluarkan anggaran yang mahal untuk menggeser kawasan-kawasan tersebut.

Baca Juga: Ambisi China Bangun Proyek Kereta Cepat di Asia Tenggara

Kemudian, financing cost. Perkara ini terjadi karena adanya keterlambatan pengerjaan proyek dan menyebabkan membengkaknya Interest During Construction (IDC) atau talangan bunga atas proyek yang dikerjakan.

"Sehingga pasti yang membengkak juga biaya head office operasi. Dengan mundurnya proyek ini, beban operasi meningkat dan ada biaya-biaya lain," ungkap dia.

Dari total anggaran EPC, pembebasan lahan, financing cost, biaya pre op dan lainnya ini kemudian menghasilkan kenaikan anggaran yang signifikan. Manajemen mengestimasi Capital Output Ratio mencapai USD1,9 miliar.

"Artinya dari USD1,9 miliar tersebut, 75 persen akan dibiayai dari pinjaman CBD dan 25% dari equity. Porsi Indonesia 60%, China 45%. Jadi itu asumsinya sehingga dapat 4,1 triliun. Dari perhitungan ini, yang kami ajukan ke pemerintah untuk diusulkan dipenuhi melalui PMN," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini