Rasio Produk UMKM RI di Rantai Pasok Global Cuma 6,3%, Tertinggal Jauh dari Malaysia

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Jum'at 03 September 2021 21:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 03 455 2465878 rasio-produk-umkm-ri-di-rantai-pasok-global-cuma-6-3-tertinggal-jauh-dari-malaysia-hhezRGHMEp.jpg UMKM (Foto: Okezone)

JAKARTA - Keterlibatan rasio produk Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) dalam rantai pasok global masih rendah. Tercatat, rasio keterlibatan UMKM baru 6,3 persen.

"Di Indonesia keterlibatan rasio produk UMKM dalam rantai pasok nilai global itu masih rendah, 6,3 persen," ujar Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki di Gedung Smesco Jakarta, Jumat (3/9/2021).

Angka tersebut, tertinggal jauh dibanding beberapa negara tetangga. Di antaranya adalah Malaysia sebesar 46,2 persen, Thailand sebesar 29,6 persen, lalu Filipina sebesar 21,4 persen.

"Jauh di bawah Malaysia yang sudah mencapai 46,2 persen, Thailand 29,6 persen, Vietnam 20,1 persen, dan Filipina 21,4 persen. Ini data WTO," katanya.

Sementara itu, kontribusi ekspor UMKM Indonesia juga masih rendah atau tercatat sebesar 14 persen. Jauh tertinggal dibandingkan dengan China 70 persen dan Jepang 54 persen.

"Ini artinya UMKM perlu segera menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional dan industri global. Dan saya kira memulai dengan BUMN ini sudah sangat tepat. Di UU Cipta Kerja, kemitraan UMKM dengan industri besar ini juga ekosistemnya sudah dibangun dengan baik, tinggal sekarang kita implementasikan," kata dia

Maka itu, Teten mengatakan perlu ada terobosan untuk mengubah struktur ekonomi yang didominasi usaha mikro agar dapat naik kelas menjadi lebih baik. Hal ini mengingat adanya 99,9 persen UMKM yang menguasai ekonomi Indonesia.

“Usaha mikro ini kebanyakan informal dan tidak produktif,” kata Teten.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa Bank Dunia memberikan rekomendasi agar Indonesia menyiapkan pekerjaan kelas menengah dengan tiga strategi terintegrasi.

Pertama, peningkatan pertumbuhan produktivitas secara menyeluruh. Lalu, mengalih aktivitas ekonomi dan pekerja ke sektor perusahaan dan pekerjaan yang lebih produktif serta menghasilkan pendapatan lebih tinggi.

Terakhir, membangun angkatan kerja dengan keterampilan yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan kelas menengah, termasuk keterampilan kognitif, interpersonal, dan digital.

“Jadi, kemitraan UMKM dan BUMN dalam rantai pasok ini saya kira ini salah satu terobosan,” ucap Teten.

Jika melihat produk-produk UMKM di Jepang, China, dan Korea Selatan, katanya, sudah berbasis kreativitas dan inovasi teknologi. Sehingga, UMKM di negara-negara tersebut menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional dan global.

Pada kesempatan yang sama, Kemenkop-UKM bersama Kementerian BUMN serta Kementerian Perindustrian menandatangani nota kesepahaman terkait kemitraan koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah/Industri Kecil Menengah (UMKM/IKM) dalam rantai pasok BUMN dengan nilai kerja sama Rp52,23 miliar.

Kemenkop-UKM akan bermitra dengan enam BUMN, antara lain PT Pertamina, PT PLN, PT Kimia Farma, PT Perhutani, PT Krakatau Steel, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Persero.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini