Cerita Pasutri Borong Tanaman Hias Rp225 Juta dari Gunung Lawu

Agregasi Solopos, Jurnalis · Senin 13 September 2021 10:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 13 455 2470405 cerita-pasutri-borong-tanaman-hias-rp225-juta-dari-gunung-lawu-nAFKqzAPhd.jpg Pasutri Borong Tanaman Hias (Foto: Solopos)

JAKARTA - Tren berbisnis tanaman hias kembali menggeliat. Hal ini dilihat dari pasangan suami istri (pasutri) yang membeli dua tanaman hias jenis Monstera King Variegata dari lereng Gunung Lawu seharga Rp225 juta.

Pasutri ini bernama Ari Winanto (46) dan Sri Hastuti (41) asal Kecamatan Banjarsari, Solo. Baru sehari disimpan di rumah, dua tanaman dengan tinggi sekitar 1,75 meter itu kini sudah ditawar sejumlah kolektor tanaman hias.

Tapi Sri dan Ari belum mau melepas tanaman yang diklaim langka tersebut karena harganya belum cocok.

“Hari ini tadi yang paling besar ada yang menawar Rp160 juta. Sama orang dari Jakarta, teman sendiri. Tapi saya rasanya masih sayang saya tanaman ini, jadi belum saya lepas. Saya mintanya Rp250 juta,” ujar dia seperti dilansir Solopos, Jakarta, Senin(13/9/2021).

Sri menjelaskan tanaman hias miliknya istimewa karena memiliki lima tongkol yang siap mengeluarkan biji atau benih. Satu tongkol bisa mengeluarkan benih hingga seratus. Biji-biji tersebut bisa disemai agar tumbuh jadi tanaman.

“Tongkolnya kalau disilangin, kalau keluar varigatanya warna pink, satu daun harganya bisa sampai ratusan juta rupiah, nanti bibitnya. Makanya yang jenis ini masih tergolong langka, banyak dicari kolektor berbagai negara,” katanya

Sri membandingkan satu tanaman kecil Monstera Varigata dengan dua atau tiga daun saja yang mencampai Rp15 juta. Artinya tanaman Monstera King Varigata miliknya yang mempunyai lima tongkol harganya menjadi berkali lipat.

Selain itu menurut Sri tanaman miliknya mempunyai varigata atau corak berpola acak yang berkesan mewah. “Tanaman ini mendunia karena bentuknya unik. Apalagi ini varigatanya yang paling unggul, warnanya berkesan mewah,” kata dia.

Sri menceritakan perjuangannya mendapatkan tanaman itu dari petani di lereng Gunung Lawu. Jalur menuju tempat pemilik tanaman terbilang berat. Sang pemilik tidak mau tanaman miliknya ditawar, sehingga dibayar sesuai permintaannya.

“Saya susah payah cari ini karena tergolong langka, sudah keluarin tongkol atau biji. Barangnya di lereng Gunung Lawu, di Desa Mogol. Saya langsung ke pemilik, ditawar tidak boleh, akhirnya deal Rp225 juta untuk dua tanaman,” urai dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini