BI Sebut Ekonomi Indonesia Kembali Bergeliat meski Ada Varian Delta

Michelle Natalia, Jurnalis · Selasa 14 September 2021 14:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 14 320 2471146 bi-sebut-ekonomi-indonesia-kembali-bergeliat-meski-ada-varian-delta-zMsU4oT0Ks.jpg Bank Indonesia (Foto: Okezone)

JAKARTA - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan bahwa kinerja ekonomi Indonesia pada pertengahan Agustus kembali bergeliat. Hal ini seiring tren penurunan kasus Covid-19 dan pelonggaran pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

"Pemulihan ekonomi sempat tertahan pada awal memasuki kuartal III, sejalan dengan meningkatnya penyebaran varian delta yang menyebabkan diberlakukan PPKM sehingga menahan aktivitas masyarakat," ujar Destry dalam Raker dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Selasa (14/9/2021).

Di pertengahan Agustus, ada indikasi bahwa aktivitas ekonomi mulai membaik dilihat dari indikator peningkatan mobilitas masyarakat, transaksi pembayaran melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dan transaksi melalui RTGS juga meningkat.

Baca Juga: Harga Jual Uang Koin Rp1.000 Kelapa Sawit Bukan Rp100 Juta, Cek 4 Faktanya

"BI masih mewaspadai berbagai risiko yang timbul dari penyebaran varian delta, pasalnya saat ini masih terjadi peningkatan penyebaran varian delta Covid-19 di berbagai negara. Hal ini mengakibatkan tertahannya perbaikan ekonomi di negara-negara dengan tingkat vaksinasi yang masih terbatas," terang Destry.

Kendati demikian, dengan kuatnya pemulihan ekonomi di Amerika Serikat dan kawasan Eropa dan Tiongkok diperkirakan dapat menopang prospek perekonomian global. BI memproyeksikan ekonomi global akan tumbuh mencapai 5,8% di tahun 2021 dan akan berlanjut mencapai 4,3% di Tahun 2022.

Baca Juga: Waspadai Pembobolan Rekening dengan Modus SIM Swap, Segera Lapor ke Sini

“Pemulihan ekonomi global akan menopang peningkatan volume perdagangan dan harga komoditas dunia, dan saat ini ketidakpastian di pasar keuangan global sudah sedikit menurun di semester II, sejalan dengan prospek perekonomian dunia yang membaik dan komunikasi yang jelas terkait arah kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed)," tambahnya.

Dia mengatakan, komunikasi The Fed yang transparan dan konsisten tentang arah kebijakan yang tetap akomodatif setidaknya pada tahun 2021 dan kondisi tersebut mendorong masuknya aliran modal global dan penguatan mata uang di berbagai negara berkembang termasuk Indonesia.

Meskipun arah kebijakan The Fed sudah jelas, namun BI masih mewaspadai berbagai risiko terkait kebijakan pengurangan stimulus moneter AS atau tapering off dan munculnya varian baru Covid-19.

“Masih terdapat risiko terkait rencana kebijakan pengurangan stimulus moneter atau biasa kita sebut tapering yang akan dilakukan oleh The Fed dan juga adanya peningkatan kasus varian delta Covid-19 ataupun varian baru yang perlu dan itu kita waspadai ke depan,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini