6 Fakta Fenomena Miliarder Dadakan di Hari Tua, Jadi Juragan Kos-kosan hingga Tak Ingin Foya-Foya

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Senin 20 September 2021 06:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 17 455 2473144 6-fakta-fenomena-miliarder-dadakan-di-hari-tua-jadi-juragan-kos-kosan-hingga-tak-ingin-foya-foya-ygKlCG7KRl.jpg Fenomena Jadi Miliarder Dadakan (Foto: Solopos)

JAKARTA - Fenomena jadi miliarder dadakan kini dirasakan sebagian masyarakat Indonesia. Sebab mereka mendapatkan uang ganti rugi dari pembebasan lahan untuk proyek infrastruktur, seperti jalan tol.

Terbaru soal pembebasan lahan untuk proyek Tol Solo-Jogja yang membuat masyarakat jadi miliarder dadakan karena mendapat uang ganti rugi hingga miliaran Rupiah. Yang uniknya lagi, para penerima uang ganti rugi ini rata-rata sudah berumur tua.

Berikut fakta-faktanya seperti dirangkum Okezone, Jakarta, Senin (20/9/2021).

1. Warga Ini Jadi Miliarder Dapat Rp3,2 Miliar

Seorang kakek mendadak jadi miliarder karena mendapatkan uang ganti rugi lahan senilai Rp3,2 miliar. Lahan milik Mudono (55 tahun) masuk dalam proyek tol Solo-Jogja di Desa Beku, Karanganom.

2. Langsung Beli Kos-kosan

Tanpa pikir panjang, Mudono pun langsung memanfaatkan yang itu untuk investasi. Mudono membeli dua rumah indekos, satu di Malang dan satu lagi di Jogja. Keduanya berlokasi di sekitar kampus di masing-masing kota.

3. Punya Lahan Sawah Seluas Ini

Mudono mengatakan uang Rp3,2 miliar itu untuk ganti rugi sawahnya seluas 2.268 meter persegi yang kena jalan tol.

“Lahannya selama ini untuk pertanian dan ada tanaman sengon,” kata Mudono.

Uang ganti rugi lahan terdampak tol Solo-Jogja itu akan dia gunakan untuk mengembangkan usaha indekos. Ia sudah mengincar dua rumah indekos di Malang, Jawa Timur, serta Jogja, DIY.

“Indekos sudah jadi, tinggal bayar. Uangnya cukup, tombok malah. Salah satu indekos seluas 110 meter persegi terdiri dari dua lantai. Indekos Jogja itu ada tujuh pintu (kamar) dan Malang ada delapan pintu (kamar),” kata Mudono.


4. Pemilik 40 Bidang Lahan Dapat Ganti Rugi

Warga desa mendadak jadi miliarder karena menerima pembayaran uang ganti rugi (UGR) proyek jalan tol Solo-Jogja. Pembayaran uang ganti rugi proyek tol Solo-Jogja berlanjut di Desa Beku, Kecamatan Karanganom.

Pemilik 40 bidang lahan menerima UGR dengan nilai total Rp43 miliar. Pencairan ganti kerugian dan pelepasan hak atas tanah jalan tol Solo-Jogja-Kulonprogo digelar di gedung pertemuan di Dukuh/Desa Beku, Kamis (16/9/2021). Pada pencairan itu ada dua pemilik bidang lahan yang tak hadir.

“Ada dua pemilik bidang lahan yang tidak hadir karena yang bersangkutan meninggal dunia. Oleh karena itu, ganti rugi (dua bidang lahan) kami kembalikan ke negara sambil menunggu surat-surat ahli warisnya. Kami tidak akan memberikan ganti rugi sepanjang yang tidak bersangkutan atau ahli waris yang sudah mendapatkan surat kuasa,” kata Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Klaten Tentrem Prihatin.

5. Kisah Kamidi

Sebagian besar warga Dusun Pundong 1, 2, 3 dan 4, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Sleman, yang terdampak tol Jogja-Bawen telah menerima dana ganti rugi pada Kamis 19 Agustus 2021. Mayoritas penerima memprioritaskan duit ganti rugi untuk mencari lahan pengganti.

Kamidi warga Pundong 3, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, berpenampilan sederhana. Warga Pundong itu memakai baju batik dengan peci hitam saat ditemui di rumahnya,

Padahal dia kini telah menjadi miliarder setelah lahannya terdampak proyek tol Jogja-Bawen. Meski sudah menjadi miliarder, sikap sederhana ditunjukkan Kamidi. Dia tidak ingin membelanjakan uang ganti rugi yang diperolehnya untuk foya-foya. Bahkan dia melarang anaknya membeli mobil.

Kamidi mengaku sejak 1962 merantau ke Sumatera. Dia baru kembali ke rumah asalnya sejak tiga bulan lalu, untuk mengurus keperluan pelepasan lahan. Dia memiliki lahan dua bidang seluas hampir 1.000 meter persegi. “Pun nikmat jan jane, tapi kena tol, dibutuhkan pemerintah, gimana lagi,” katanya.

Dua lahannya diganti rugi masing-masing senilai Rp2,1 miliar dan Rp2,4 miliar. Total ganti rugi yang diterima ini akan dibagi kepada enam anaknya, dan dibebaskan untuk membeli tanah atau rumah di mana saja. Namun ia berpesan kepada anak-anaknya agar tidak membelanjakan uang tersebut untuk membeli mobil dan kebutuhan konsumtif lainnya.

“Saya larang. Kalau mobil jangan lah. Mobil itu cuma barang apa. Tapi kalau lahan, perumahan, bisa berguna untuk masa depan anak. Kalau mobil tapi perutnya lapar ya payah. Pertama buat makan, kedua disimpan, buat jaga-jaga kalau sakit,” ujarnya.

6. Ada Gusuran Rp7,5 Triliun dari Proyek Tol

Pemerintah berencana akan terus melakukan pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol Jogja-Bawen di wilayah DIY. Saat ini, pembebasan lahan pembanguna tol baru sebagian kecil dari total kebutuhan. Hingga kini, lahan yang sudah dibebaskan baru seluas 8,6 hektare dari sekitar 47,6 hektare yang dibutuhkan.

Humas PT Jasamarga Jogja-Bawen Banu Subekti mengatakan, jumlah lahan yang sudah dibebaskan sampai saat ini sudah mencapai 86.752 meter persegi atau 8,6 Hektare. Tahapan-tahapan kegiatan pembebasan lahan, mulai dari musyawarah warga terdampak hingga proses pembayaran terus dilakukan.

Sebelumnya, proses pembayaran uang ganti kerugian (UGK) dilakukan bagi warga terdampak di Tirtoadi, Mlati. PT JJB, bersama BPN Kanwil DIY pun sudah menggelar musyawarah warga di Margomulyo (Seyegan). Selanjutnya, dalam waktu dekat musyawarah warga Margodadi akan dilakukan dalam waktu dekat.

“Kalau sudah ada kepastian jadwalnya akan kami kabari. Untuk estimasi dana pembebasan lahan untuk tol Jogja-Bawen sekitar Rp7,5 triliun,” katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini