Pemuda 17 Tahun Korban Bullying Kini Jadi Miliarder, Untungnya Bikin Geleng-Geleng Kepala

Aditya Pratama, Jurnalis · Minggu 19 September 2021 12:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 19 455 2473582 pemuda-17-tahun-korban-bullying-kini-jadi-miliarder-untungnya-bikin-geleng-geleng-kepala-r91bKCx4qr.jpg Pemuda 17 Tahun Jadi Miliarder (Foto: Paradox Computers/CNBC)

JAKARTA - Pemuda 17 tahun berhasil menjadi miliarder dan CEO perusahaan. Pemuda ini berhasil membangun dua bisnis yang menjadikan dirinya seorang miliarder di usia muda.

Dia adalah Sukone Hong. Bisnis pemuda 17 tahun asal Korea Selatan ini bergerak di bidang fashion dan jam tangan pintar atau smartwatch braille untuk tunanetra.

Dari bisnis fashion, Sukone Hong mengantongi penjualan lebih dari USD1 juta atau Rp14,2 miliar tahun ini. Sementara bisnis smartwatch braille mencatat pesanan mencapai ribuan unit.

Namun, ada kisah inspiratif di balik kesuksesan Hong di usia 17 tahun. Sebelum terjun ke bisnis, Hong mengalami masa-masa sulit. Dia merupakan korban bullying teman-temannya.

"Saya seperti di-bully. Saya harus menemukan sesuatu yang dapat mengubah hidup saya," kisah Hong seperti dikutip dari CNBC, Minggu (19/9/2021).

Hong pun memulai bisnisnya empat tahun lalu, ketika masih duduk di kelas 2 SMP. Kala itu, dia harus berjuang menyesuaikan diri dengan teman-teman sekelasnya dengan mencari kegiatan lain, dan memutuskan menjual pakaian bermerek lewat mesin pencari Korea Selatan, Naver.

Namun uang yang dimilikinya sebesar USD150 tidak cukup untuk menjalankan bisnis, sehingga harus mengubah strategi. Dia akhirnya meminjam uang kakek dan neneknya sebesar USD5.000 dan melibatkan bisnis percetakan.

Hong mulai membuat situs pakaiannya sendiri, yang menawarkan pakaian kasual unisex dengan desain sederhana dan ceria. Dari sini lahirlah Olaga Studio.

"Tidak ada yang terjadi selama seminggu. Kemudian pada Senin pagi, ada sekitar 15 pesanan. Lima puluh pesanan saat makan siang. Delapan puluh pada malam hari. Seminggu itu saya menjual 300 kemeja," ujar Hong.

Tiga tahun setelah didirikan, produknya sukses secara regional dan mencatatkan penjualan tahunan sebesar USD1,2 juta atau Rp17,12 miliar dari enam pasar Asia. Bahkan menjadi peringkat pertama dalam kategori kaos Style Share.

Sementara bisnis smartwatch braille didirikan dengan tujuan membantu tunanetra menerima informasi, seperti teks dan pesan dari ponsel mereka. Paradox Computers adalah perusahaan di balik smartwatch braille miliknya.

Sebenarnya jam tangan seperti ini sudah beredar di pasaran selama beberapa tahun. Namun harganya mahal, biasanya lebih dari USD300 sehingga sulit diakses oleh banyak tunanetra.

Setelah mengerjakan proyek sekolah tentang disabilitas, Hong menyadari ketidaksetaraan dan memutuskan harus ada pilihan lain yang lebih terjangkau.

"Saya menemukan bahwa ini sangat tidak adil. Dan, pada saat yang sama, ini adalah peluang bagus untuk bisnis," kata Hong.

Jadi, dia mulai memahami pasar, berbicara dengan orang-orang tunanetra untuk mengetahui kebutuhan mereka, dan para teknisi untuk mencari solusi. Kemudian, dengan jaringan yang dimiliki dari bisnis fashion-nya, Hong berhasil mendapatkan pendanaan sebesar USD300.000.

"Latar belakang saya sebagai CEO membantu saya. Saya belajar bahwa meskipun saya tidak memiliki latar belakang teknologi, saya dapat mempekerjakan semua orang ini," katanya.

Enam bulan berlalu, Paradox Computers menjual smartwatch seharga USD80 dan telah terjual ratusan unit. Saat ini ada 3.000 pre-order dari China. Dan meski telah sukses, Hong berkomitmen untuk menyelesaikan pendidikannya.

"Ketika bisnis berkembang pesat, saya berpikir untuk putus sekolah. Tapi saya bertemu banyak CEO dan mereka semua mengatakan kepada saya bahwa saya harus kuliah," ujar Hong.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini