Harga Properti di Sydney dan Melbourne Diprediksi Melonjak

Sevilla Nouval Evanda, Jurnalis · Senin 20 September 2021 16:29 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 20 470 2474145 harga-properti-di-sydney-dan-melbourne-diprediksi-melonjak-f4q3j5tczj.jpeg Harga hunian di Australia diprediksi meningkat (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Harga hunian di Sydney dan Melbourne diprediksi mengalami peningkatan sebesar 8% dan 9% dalam 12 bulan ke depan. Hal ini diungkapkan Kepala Riset Konsumen di Finder Graham Cooke.

Finder adalah sebuah situs perbandingan yang paling banyak dikunjungi di Australia. Situs ini beroperasi di 83 negara dengan 9,7 juta pengunjung per bulan di seluruh dunia.

Baca Juga:  Program Sejuta Rumah Dilanjut agar Masyarkat Punya Hunian Layak

Kenaikan harga properti pada data tersebut terjadi meski saat ini tengah diberlakukan lockdown. Rata-rata harga hunian di Sydney diperkirakan akan tumbuh sebesar AUD76.619 (Rp789,4 juts) menjadi AUD1.070.917 atau setara Rp11 miliar pada Juli 2022.

Sementara itu, data menunjukkan bahwa Melbourne bakal mengalami kenaikan harga properti sebesar AUD64.014 menjadi AUD817.114. Cooke pun berpendapat kebijakan lockdown saat ini tak terlalu berpengaruh pada harga properti.

Baca Juga: Hunian Berbasis TOD Dilirik Konsumen Kota Besar

"Kebijakan lockdown sejatinya tidak memiliki banyak pengaruh selama 12 bulan terakhir atau lebih pada harga properti," ungkap Cooke dalam rilis pers Cown Group.

Meski begitu, Cooke mengatakan pencabutan kebijakan akan berefek pada percepatan kenaikan harga properti. Dia pun berharap kenaikan harga akan terus dipercepat ketika lockdown dicabut.

Menanggapi kabar itu, Direktur Penjualan dan Pemasaran Crown group Indonesia, Tyas Sudaryomo, mengatakan kenaikan harga properti menghasilkan dampak positif terhadap permintaan hunian, khususnya apartemen, dari pasar Indonesia.

Hal ini terlihat dari jumlah inquiries dari pasar Indonesia yang relatif stabil dengan rataan mencapai 100 inquiries setiap bulannya.

Tyas juga mengatakan inquiries tersebut didapatkan lewat saluran pemasaran daring yang memanfaatkan platform media sosial.

"Ini bukan kali pertama bagi kami bersinggungan dengan teknologi daring," lanjut dia.

Menariknya, tipe pembeli dari pasar Indonesia bergeser. Saat ini, pembelian didominasi oleh owner-occupiers sejak 3 bulan terakhir.

Tyas menjelaskan, qualified leads sebelumnya didominasi oleh first time buyers/investors yang banyak yang tertarik dengan proyek off the plan.

"Sementara pada bulan Juni - September 2021, didominasi oleh owner-occupiers yang lebih banyak tertarik dengan proyek siap huni seperti Waterfall by Crown Group di kota Sydney yang selama ini dikenal sebagai ‘The Greenest Address in Waterloo’,” jelas Tyas.

Sebagai penutup, Tyas menjelaskan suku bunga pinjaman KPA di Australia saat ini menjadi salah satu daya tarik bagi pembeli dari Indonesia, yaitu 3,5% - 3,9% per tahun untuk floating rate.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini