Evergrande Potensi Gagal Bayar Rp4.000 Triliun, Apa Dampaknya ke IHSG?

Aditya Pratama, Jurnalis · Selasa 21 September 2021 13:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 21 278 2474612 evergrande-potensi-gagal-bayar-rp4-000-triliun-apa-dampaknya-ke-ihsg-6KFqZ4WbgR.jpg Krisis evergrande tak pengaruhi gerak IHSG (Foto: Okezone)

JAKARTA - Evergrande terancam bangkrut. Perusahaan pengembang properti terbesar kedua di China itu masih berupaya untuk menempuh jalur perpanjangan tenor pembayaran di sejumlah bank.

Perusahaan ini disebut memiliki kewajiban mencapai USD305 miliar atau setara dengan Rp4.361 triliun (dengan kurs Rp14.300/USD). Analisis Panin Sekuritas, William Hartanto menilai bahwa pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak akan memberikan dampak signifikan terkait sentimen negatif raksasa properti China, Evergrande yang terancam bangkrut.

Baca Juga: Kasus Gagal Bayar Evergrande Bikin Investor Panik dan Pasar Saham Dunia Anjlok

"Tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap IHSG. Terlalu dipaksakan jika mengatakan bahwa bangkrutnya emiten di luar negeri akan memengaruhi pasar negara lain, kecuali kalau ini ceritanya di emiten di Indonesia, baru ada efeknya ke IHSG karena memengaruhi kepercayaan investor," ujar William kepada MNC Portal Indonesia, Selasa (21/9/2021).

Sentimen negatif dari Evergrande ini diketahui berdampak langsung terhadap sejumlah bursa di Asia, salah satunya Indeks harga saham acuan bursa Hong Kong (Hang Seng Index). Menurut William, hal tersebut wajar jika terjadi demikian.

Baca Juga: Wall Street Anjlok Dipicu Aksi Jual karena Krisis Evergrande

"Evergrande di China, jika efeknya kena di bursa China itu wajar. Mungkin karena kapitalisasi pasarnya juga besar," kata dia.

Dia turut menyarankan kepada para investor untuk tidak perlu ikutan panik terkait sentimen Evergrande. Pasalnya, potensi bangkrut perusahaan tersebut belum tentu terjadi.

"Pertama, itu baru potensi bangkrut, belum bangkrut beneran. Pun, engga ada hubungannya ke Indonesia kalau dia beneran bangkrut. Investor dalam negeri disarankan untuk melihat tren besar IHSG, dan jika menurut mereka masih aman, maka pelemahan ini jadi kesempatan buy on weakness. Menurut saya IHSG masih sideways, area 6.000 - 6.172," ucapnya.

Sementara itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, jika dilihat dari pergerakan IHSG pada September bahwasannya indeks akan bertahan di zona merah. Pasalnya, hal tersebut merupakan bagian dari efek bulan September atau September Effect.

"Karena kalau secara historical pergerakan indeks cenderung bertahan di zona merah, kebetulan kalau sentimen selama bulan ini berkaitan dengan dinamika kebijakan The Fed yang akan melaksanakan kebijakan tapering, tapi pengumumannya lagi ditunggu," ucap Nafan.

Nafan menambahkan, selain September Effect maupun pengumuman The Fed, sentimen negatif terkait Evergrande juga menjadi sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG.

"Kebetulan juga pada 20 September sehubungan dengan properti asal Tiongkok bernama Evergrande, itu lumayan besar, tapi masalahnya perusahaan tersebut belum mampu melunaskan utang jatuh tempo, itu juga kebetulan membuat terjadinya kondisi panic selling yang pada pergerakan Bursa di regional Asia," tuturnya.

Evergrande Group atau Evergrande Real Estate Group (sebelumnya Hengda Group) merupakan perusahaan pengembang properti terbesar kedua di China dalam hal penjualan, menjadikannya perusahaan terbesar ke-122 di dunia dalam hal pendapatan, menurut 2021 Fortune Global 500 List.

Perusahaan tersebut berbasis di Provinsi Guangdong, Tiongkok selatan, dan menjual apartemen-apartemen utamanya kepada para pembeli berpendapatan menengah dan ke atas.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini