BI Diprediksi Tahan Suku Bunga di 3,5%

Michelle Natalia, Jurnalis · Selasa 21 September 2021 08:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 21 320 2474435 bi-diprediksi-tahan-suku-bunga-di-3-5-7VkP2D30DI.jpg Gubernur BI Perry Warjiyo. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diprediksi mempertahankan tingkat suku bunga acuannya di level 3,5%. BI dinilai akan mempertimbangkan indikator ekonomi cenderung stabil, di mana tingkat inflasi masih relatif terjaga <2% dan nilai tukar rupiah juga cenderung stabil di kisaran 14.200-14.300 sejak awal bulan September.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan,  bila dilihat dari kondisi tapering Fed pada tahun 2013, dampak tapering cenderung menekan Rupiah dan pasar SBN terutama pada saat setelah pengumuman tapering, serta periode akhir dari tapering hingga kenaikan suku bunga yang pertama.

Baca Juga: Suku Bunga BI Diprediksi Akan Kembali Ditahan pada 3,5%

"Sementara, dalam 1-2 bulan terakhir, Fed sudah memberi sinyal bahwa akan memulai melakukan tapering pada akhir tahun ini, dan reaksi pelaku pasar keuangan pun cenderung tidak berlebihan karena kebijakan tapering belum tentu akan dilanjutkan dengan kenaikan suku bunga Fed, seperti yang terjadi pada tahun 2013 ketika taper tantrum," katanyadi Jakarta, Selasa (21/9/2021).

Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga di 3,5%

Sementara itu, dari sisi domestik, inflasi mulai mengalami peningkatan secara gradual sejalan dengan kembalinya daya beli masyarakat. Namun, hingga saat ini, tingkat inflasi masih di bawah target dari BI.

Dengan kondisi global dan domestik tersebut, BI berpotensi untuk mempertahankan suku bunga acuan hingga akhir tahun ini dan diperkirakan juga akan melakukan tapering kebijakan Quantitative Easingnya pada tahun depan merespon dan mengimbangi langkah kebijakan tapering Fed.

"Setelah itu, BI baru akan mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuannya paling cepat di akhir tahun 2022 dan akan sangat tergantung pada tren inflasi domestik kedepannya," katanya.

Dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang resilient dan stabil, ditopang oleh cadangan devisa yang solid sebagai first line of defence, maka diperkirakan akan tetap menjaga iklim investasi baik di portfolio investment dan FDI sehingga akan dapat mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik di tengah proses normalisasi kebijakan moneter AS.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini