Gubernur BI soal Dampak Krisis Evergrande ke Ekonomi Indonesia

Antara, Jurnalis · Selasa 21 September 2021 19:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 21 320 2474835 gubernur-bi-soal-dampak-krisis-evergrande-ke-ekonomi-indonesia-ffM22lg1bu.jpg Gubernur BI Perry Warjiyo (Foto: Okezone)

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo angkat bicara soal dampak krisis gagal bayar perusahaan properti China Evergrande ke ekonomi Indonesia. Menurut Perry, krisis Evergrande tak mempengaruhi pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik serta nilai tukar Rupiah.

"Sejauh ini memang pengaruhnya terhadap Indonesia di awal itu terjadi pada pasar modal tapi kemudian berangsur mereda. Sementara dampaknya di pasar SBN maupun nilai tukar rupiah tidak nampak," tegas Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan September 2021 secara daring di Jakarta, Selasa (21/9/2021).

Baca Juga: Kasus Gagal Bayar Evergrande Bikin Investor Panik dan Pasar Saham Dunia Anjlok

Tak berpengaruhnya pasar SBN tersebut, menurut dia, terlihat dari derasnya aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia, terutama dalam periode Juli hingga 17 September 2021 yang mencatatkan nett inflows sebesar 1,5 miliar dolar AS.

Meski begitu, Perry Warjiyo tak menampik krisis Evergrande sempat mempengaruhi pasar modal domestik, sebagai implikasi terganggunya pasar keuangan global.

​​

"Jadi memang gangguan di pasar modal murni berasal dari faktor eksternal bukan karena faktor domestik," ujarnya.

Tetapi, dia memperkirakan perkembangan pasar modal Indonesia ke depannya akan lebih dipengaruhi oleh kondisi fundamental seiring dengan perkembangan ekonomi yang terus membaik di dalam negeri, daripada terpengaruh kondisi teknikal di pasar keuangan global.

Dengan keyakinan ekonomi Indonesia yang membaik, defisit transaksi berjalan yang rendah, cadangan devisa yang besar, dan berbagai perbaikan yang dilakukan, terdapat kecenderungan nilai tukar Rupiah juga akan terus menguat atau setidaknya stabil ke depannya.

"Maka dari itu, BI akan terus memantau perkembangan ekonomi dan pasar keuangan global, tidak hanya yang terjadi di China, namun juga di Amerika Serikat yang berkaitan dengan isu pengurangan likuditas atau tapering off Bank Sentral AS, The Fed," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini