Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Putar Otak agar Tak Bangkrut

Avirista Midaada, Jurnalis · Rabu 22 September 2021 11:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 22 320 2475105 harga-telur-anjlok-peternak-ayam-putar-otak-agar-tak-bangkrut-FliKXyiFjX.jpg Peternak Ayam Siasati Harga Telur yang Turun. (Foto: Okezone.com/Avirista)

MALANG - Peternak ayam mengeluhkan anjloknya harga telur dalam sebulan terakhir ini. Di tingkat peternak harga telur per kilogram sebesar Rp14.000- Rp14.500 hingga kini.

Tentu saja harga yang murah membuat peternak rugi besar dan terpaksa melakukan berbagai cara untuk bisa bertahan dalam situasi sulit.

Pekerja di salah satu peternakan ayam petelur kawasan Wonokoyo, Kedungkandang, Dani Uluf Suwanda mengungkapkan, harga telur yang tak kunjung naik membuat peternak memilih menghentikan produksi. Salah satunya adalah dengan melakukan afkir dini ayam petelur yang sebenarnya masih produktif. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya operasional yang semakin tinggi lantaran harga pakan ayam yang mahal.

Baca Juga: Harga Telur Anjlok, Peternak Mulai Tutup Usahanya

"Kemarin sebanyak 2.500 ekor ayam terpaksa kami afkir dini. Padahal ayam-ayam tersebut masih produktif. Tetapi kami tidak punya pilihan lain," ungkap Dani Uluf ditemui MNC Portal, pada Rabu (22/9/2021).

Tapi metode afkir ini nyatanya juga masih membuat para peternak ayam merugi cukup besar. Sebab, harga ayam afkir juga terhitung murah yakni hanya dikisaran Rp12.000-Rp14.000 per kilogram. Padahal normalnya harga ayam afkir masih bisa terjual kisaran Rp 16.000 lebih per kilogram.

Baca Juga: Anjlok Harga Telur "Pecah", Selengkapnya di iNews Siang

"Ini juga masih rugi sebenarnya. Sebagai gantinya kami mencari bahan baku yang lebih murah dari biasanya sebagai pengganti yang diafkir," terangnya.

Namun Dani menyebut, kerugian yang dialami memang masih bisa menekan biaya operasional, daripada memaksakan tetap produksi tetapi hasil tidak sesuai.

Tapi persoalan baru muncul lantaran ia harus mengeluarkan operasional untuk perawatan bibit baru. Tentu saja biaya yang dikeluarkan juga tidak murah. Meski tidak merinci secara detail, Dani menyebut bahwa operasional yang dikeluarkan cukup besar. Hasil penjualan telur masih belum mampu menutup biaya operasional.

"Sebenarnya kami ingin tidak sampai afkir dini. Tetapi situasinya sulit dan tidak memungkinkan lagi. Karena hasil penjualan tak bisa menutup operasional," sambungnya.

Dia terus berusaha menghemat operasional dengan memodifikasi pakan ternak. Langkah ini terpaksa dilakukan sambil menunggu harga telur stabil. Peternak mencari pakan dengan kualitas yang sedikit diturunkan dari kualitas yang biasa diberikan kepada ayam.

Selain itu, peternak juga berharap harga telur bisa kembali naik ke harga normal yakni kisaran Rp19.000, agar mereka juga bisa terus berproduksi.

"Kalau seperti ini terus bisa-bisa peternak gulung tikar karena hasil yang didapat tidak sesuai," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini