Insinyur Diminta Buat Teknologi Kesehatan Canggih

Antara, Jurnalis · Minggu 26 September 2021 12:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 26 320 2476991 insinyur-diminta-buat-teknologi-kesehatan-canggih-Te76Mz2L9K.jpg Insinyur Didorong Kembangkan Teknologi Kesehatan Indonesia. (Foto: Okezoe.com)

JAKARTA - Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mendorong para insinyur berperan penting membuat teknologi kesehatan yang bisa menggerakkan ekonomi industri kesehatan, terutama pada masa pandemi seperti ini.

Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Pusat Heru Dewanto mengatakan, para insinyur punya andil untuk berpartisipasi di industri kesehatan, yakni antara lain dengan membantu para dokter dengan menciptakan teknologi baru di bidang kesehatan.

"Kemudian apa saya yang sudah PII lakukan, kami mencoba berkomunikasi. Selama ini kan kelihatannya urusan kesehatan kan murni urusan dokter saja. Padahal, kita tahu di balik dokter itu ada teknologi. Dokter selama ini bekerja, semua menggunakan teknologi. Teknologi kesehatan itu kan sumbernya berasal dari para insinyur," terangnya, dikutip dari Antara, Minggu (26/9/2021).

Baca Juga: Indonesia Tembus 100 Juta Vaksinasi, Sri Mulyani: Luar Biasa

Di luar negeri, menurut dia, hal tersebut sudah umum terjadi, namun di Indonesia, langkah melibatkan pemikiran para insinyur di dunia kesehatan adalah sesuatu yang masih jarang terjadi.

Untuk itu, ujar dia, insinyur perlu betul-betul memahami kebutuhan di dunia kesehatan, sehingga pihaknya juga terus berkomunikasi dengan asosiasi kesehatan, produsen alat kesehatan, dan industri kesehatan.

"Komunikasi tersebut, lanjutnya, adalah untuk memahami apa kebutuhan dan syarat-syarat di dunia kesehatan," katanya.

Ketum PII mengatakan setelah para insinyur sukses membantu dunia kesehatan melalui teknologi baru, tahapan berikutnya adalah menjodohkan teknologi tersebut dengan industri, sehingga teknologi baru di bidang kesehatan itu bisa membantu perindustrian alat-alat kesehatan dalam negeri.

Baca Juga: 3 Fakta Harga Vaksin Merah Putih Murah Meriah Cuma Rp71.000

Terkait dengan wacana penetapan COVID-19 sebagai endemi, Heru menyatakan hal tersebut harus ditentukan dengan langkah yang berhati-hati.

"Endemi ini juga, kita harus berhati-hati. Kenapa? Karena endemi untuk COVID-19 ini mungkin bisa berbeda dengan endemi demam berdarah misalnya penanganannya. Endemi COVID-19 disalurkan lewat manusia, sehingga ada kekhawatiran muncul yang namanya hyper-endemi misalnya," ujar Heru.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengemukakan nilai transaksi sektor kesehatan di Indonesia menembus nominal Rp490 triliun dalam kurun setahun terakhir.

"Saya juga baru mempelajari bahwa total pengeluaran untuk sektor kesehatan, baik yang dilakukan oleh individu, perusahaan swasta, perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pemerintah daerah dan pemerintah pusat berkisar di angka Rp490 triliun setahun ini," kata Budi Gunadi Sadikin saat hadir secara virtual dalam Forum Nasional Kemandirian dan Ketahanan Industri Alat Kesehatan di Jakarta, Senin (30/8).

Budi mengatakan pengeluaran yang paling besar digunakan untuk membayar layanan kesehatan yang diberikan oleh dokter maupun menggunakan alat kesehatan.

Menurut Budi situasi itu menggambarkan betapa besarnya potensi usaha dan bisnis di sektor kesehatan yang saat ini bergulir di Indonesia.

"Sangat sayang bila potensi bisnis ini terjadi tanpa membangun kapasitas manufaktur atau pembuatan industri dalam negeri khususnya di sektor kesehatan tanpa membuka kesempatan bagi tenaga tenaga kerja Indonesia bagi pengusaha asli Indonesia untuk bisa berusaha di sektor kesehatan ini," katanya.

Dalam lima tahun terakhir sejak Presiden Joko Widodo mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) mengenai produksi alat kesehatan dalam negeri, kata Budi, Kemenkes telah mengeluarkan total 9.400-an izin edar untuk produk kesehatan produksi dalam negeri. Jumlah itu meningkat dari sebelumnya berkisar 2.300-an izin edar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini