Penerimaan Negara dari Sektor ESDM Capai Rp141 Triliun, Naik 103%

Antara, Jurnalis · Selasa 28 September 2021 14:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 28 320 2478075 penerimaan-negara-dari-sektor-esdm-capai-rp141-triliun-naik-103-VZaDHj4ZFO.jpg Menteri ESDM Arifin Tasrif (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan kontribusi sektor ESDM terhadap penerimaan negara hingga Juli 2021 menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan periode sama 2020.

"Hingga Juli tahun ini, kontribusi sektor ESDM dalam penerimaan negara mencapai Rp141 triliun atau lebih tinggi 103% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sedangkan, investasi ESDM telah mencapai lebih dari 12 miliar dolar AS," kata Menteri Arifin seperti dilansir Antara, Selasa (28/9/2021).

Menurut Menteri, kontribusi dan kinerja sektor ESDM pun terus tumbuh positif di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang mulai terkendali. Kinerja sektor ESDM semakin bangkit dan menunjukkan peningkatan dengan kebijakan dan capaian yang strategis. Di subsektor migas, imbuh Arifin, selain mengubah skema kontrak bagi hasil menjadi lebih fleksibel, pemerintah juga memberikan berbagai macam insentif untuk menarik investasi.

Baca Juga: Komisi VII Setujui Tambahan Anggaran Kementerian ESDM Rp850 Miliar di 2022

"Kontrak bagi hasil migas telah dibuat lebih fleksibel yaitu skema gross split atau cost recovery. Untuk lebih menarik investasi hulu migas, berbagai insentif telah diberikan, antara lain untuk Blok Mahakam. Lalu, pada Agustus 2021, Blok Migas Rokan, salah satu blok migas terbesar Indonesia, juga secara resmi telah dikelola negara melalui PT Pertamina," jelasnya.

Selain itu, Program BBM Satu Harga yang bersentuhan langsung dengan masyarakat juga terus dilaksanakan dan menargetkan lebih dari 580 titik hingga 2024.

Baca Juga: Kementerian ESDM Catat Realisasi PNBP Capai Rp83,1 Triliun

Lebih lanjut, Menteri Arifin menyampaikan pihaknya juga mengeluarkan kebijakan untuk memberikan kepastian pemanfaatan batu bara untuk menjaga ketahanan energi domestik, terkhusus pada pembangkit listrik.

Kebijakan pemanfaatan mineral diarahkan untuk peningkatan nilai tambah terutama nikel sebagai salah satu material pendukung baterai kendaraan listrik. Adapun di bidang ketenagalistrikan, pemerataan akses listrik masih menjadi fokus utama Kementerian ESDM.

"Saat ini, rasio elektrifikasi telah mencapai 99,4%. Tahun depan, ditargetkan seluruh rumah tangga telah teraliri listrik 100%," kata Menteri Arifin.

Kementerian ESDM juga telah menyusun Grand Strategi Energi Nasional (GSEN), yang diharapkan mampu membuahkan solusi untuk tantangan ketahanan dan kemandirian energi nasional.

"GSEN diharapkan mampu menjadi jawaban dari tantangan yang saat ini dihadapi, antara lain keterbatasan pengembangan energi baru terbarukan dan tuntutan pembangunan infrastruktur yang lebih masif serta tepat guna," kata Menteri Arifin.

Dokumen itu telah memetakan rencana untuk menambah kapasitas pembangkit energi baru terbarukan sebesar 38 GW sampai 2035. Penambahan kapasitas pembangkit itu melalui upaya percepatan substitusi energi primer, konversi energi primer fosil, penambahan kapasitas energi baru terbarukan dan pemanfaatan energi hijau nonlistrik atau non-BBN.

"Untuk mencapai target tersebut pemerintah memprioritaskan pengembangan energi surya karena biaya investasi yang semakin rendah dan waktu pelaksanaan yang semakin singkat," ujar Menteri Arifin.

Program-program tersebut, lanjutnya, mendukung target transformasi energi menuju net zero emission (NZE), yang menjadi komitmen bersama untuk dicapai paling lambat pada 2060 atau bisa lebih cepat lagi dengan bantuan internasional.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini