Wall Street Turun Tajam karena Kekhawatiran Inflasi

Antara, Jurnalis · Rabu 29 September 2021 07:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 29 278 2478451 wall-street-turun-tajam-karena-kekhawatiran-inflasi-UXatdUxv4f.jpg Wall Street ditutup melemah (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Wall Street turun tajam pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Bursa saham AS melemah di tengah aksi jual luas yang didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, memperdalam kekhawatiran atas inflasi yang berkepanjangan, dan negosiasi plafon utang yang kontroversial di Washington.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 569,38 poin atau 1,63%, menjadi menetap di 34.299,99 poin. Indeks S&P 500 berkurang 90,48 poin atau 2,04%, menjadi berakhir di 4.352,63 poin. Indeks Komposit Nasdaq anjlok 423,29 poin atau 2,83% menjadi ditutup pada 14.546,68 poin.

Baca Juga: Wall Street Mixed, Indeks S&P dan Nasdaq Anjlok Terseret Saham Teknologi

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan layanan teknologi dan komunikasi masing-masing merosot 2,98% dan 2,79%, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor energi menguat 0,46%, merupakan satu-satunya kelompok yang memperoleh keuntungan.

Ketiga indeks utama saham AS turun hampir 2,0% atau lebih, dengan sektor teknologi yang sensitif suku bunga dan saham yang berdekatan dengan teknologi tertekan paling berat karena investor kehilangan selera risiko mereka.

Baca Juga: Wall Street Menguat Usai The Fed Tahan Suku Bunga

Itu adalah persentase penurunan satu hari terbesar indeks S&P 500 sejak Mei, dan terbesar di Nasdaq sejak Maret. Indeks S&P 500 dan Komposit Nasdaq berada di jalur untuk penurunan bulanan terbesar sejak September 2020.

"Gambaran besarnya adalah lonjakan tiba-tiba imbal hasil pada minggu terakhir, yang telah menyebabkan mentalitas 'jual dulu, ajukan pertanyaan nanti'," Ryan Detrick, ahli strategi pasar senior di LPL Financial di Charlotte, North Carolina.

"(Tapi) ada banyak faktor yang membebani sentimen hari ini," tambah Detrick. Bolak-balik di Washington dengan plafon utang dan rancangan undang-undang pengeluaran serta potensi pajak yang lebih tinggi telah membebani psikologis investor secara keseluruhan dan telah menyebabkan aksi jual yang cukup besar.

Indeks acuan juga menetapkan arah untuk kinerja kuartalan terlemahnya sejak pandemi COVID membuat ekonomi global bertekuk lutut.

Pelemahan merasuki sebagian besar kelas aset, termasuk emas, menunjukkan sentimen penghindaran risiko (risk-off) yang meluas.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS terus meningkat, dengan imbal hasil obligasi bertenor 10-tahun mencapai level tertinggi sejak Juni, karena ekspektasi inflasi memanas dan meningkatnya kekhawatiran bahwa Federal Reserve AS dapat mempersingkat waktunya untuk pengetatan kebijakan moneternya.

Menteri Keuangan Janet Yellen mengatakan dia memperkirakan inflasi akan berakhir pada 2021 mendekati 4,0% dan memperingatkan anggota parlemen kegagalan mereka untuk mencegah penutupan pemerintah ketika negara semakin dekat dengan kemampuan pinjamannya yang melelahkan dapat menyebabkan "kerusakan serius" pada ekonomi.

Partai Republik di Senat tampaknya akan menghentikan upaya Demokrat untuk memperpanjang otoritas pinjaman pemerintah dan menghindari potensi gagal bayar kredit AS.

Sebuah laporan Conference Board menunjukkan kepercayaan konsumen melemah secara tak terduga pada September ke level terendah sejak Februari.

Lonjakan imbal hasil obligasi telah mempercepat rotasi keluar dari saham-saham teknologi tinggi, dengan Microsoft Corp, Apple Inc, Amazon.com Inc dan Alphabet Inc komponen terbesar di S&P dan Nasdaq, jatuh antara 2,4% dan 3,6%.

Ford Motor Co adalah salah satu dari sedikit titik terang, menguat 1,1% di tengah berita bahwa mereka akan bergabung dengan mitra baterai Korea SK Innovation untuk menginvestasikan 11,4 miliar dolar AS untuk membangun pabrik perakitan moblil listrik F-150 ldan tiga pabrik baterai AS.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 12,27 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 10,37 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini