Kisah Bos Evergrande Pernah Jadi Orang Terkaya, Kini di Ujung Kebangkrutan

Sevilla Nouval Evanda, Jurnalis · Rabu 29 September 2021 22:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 29 455 2478681 kisah-bos-evergrande-pernah-jadi-orang-terkaya-kini-di-ujung-kebangkrutan-eZcZfPqJvO.jpg China Evergrande Terancam di Ujung Tanduk. (foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Pendiri Evergrande Group Hui Ka Yan pernah menjadi orang terkaya se-Asia dengan kekayaan USD42,5 miliar atau setara Rp608,5 triliun. Sayangnya, 75% dari kekayaan itu menguap karena masalah gagal bayar Evergrande.

Perusahaan real estate itu berutang hingga USD305 miliar atau lebih dari Rp4.000 triliun, meski kas mereka hanya sejumlah USD13,4 miliar. Evergrande pun meminjam tak hanya dari bank, perusahaan perwalian, dan pemegang obligasi, tetapi juga karyawan dan masyarakat luas.

Menurut Jurnal Keuangan Lokal Ciaxin, Evergrande memiliki utang off-balance sheet sebesar USD6,2 miliar. Angka ini berasal dari produk wealth management yang dijual pada investor ritel.

Kisah Investor

Seorang warga Inggris, Liz, sempat membeli produk kekayaan tanpa asuransi itu sebanyak CNY350 ribu (setara Rp773 juta) selama setahun terakhir. Pasalnya, Evergrande menjanjikan pengembalian tahunan 7,5%.

Baca Juga: Skema Terburuk Atasi Gagal Bayar Raksasa Properti Evergrande

Liz mengaku telah mendapatkan pembayaran pokok dan bunga sebesar CNY100 ribu pada akhir tahun lalu. Namun, dia khawatir tak akan mendapatkan sisanya yang jatuh tempo pada Januari mendatang.

Evergrande telah memberitahu Liz bahwa sebagian dari hasil penjualan akan digunakan untuk mendanai ekspansi ke pembuatan kendaraan listrik, sebuah bisnis yang kini juga di ambang kehancuran.

Baca Juga: 4 Fakta Evergrande Gagal Bayar Utang Rp4.000 Triliun yang Bikin Sri Mulyani Was-Was

Unit EV perusahaan baru-baru ini memperingatkan kekurangan dana yang serius dan mengaku telah menangguhkan pembayaran beberapa biaya operasionalnya, menurut pengajuan ke bursa saham.

Potensi keruntuhan Evergrande bergema di seluruh pasar global. Investor tak hanya pergi, tetapi juga membuang saham properti di seluruh Hong Kong karena khawatir adanya "penularan", terutama karena ekonomi yang bergantung pada real estat setidaknya seperempat dari PDB.

Hingga saat ini, Evergrande pun belum membuat pengumuman tentang pembayaran bunga obligasi USD83,5 juta yang jatuh tempo minggu lalu. Diamnya perusahaan membuat kegelisahan pasar meningkat.

Menurut perkiraan analis Nomura Iris Chen, kreditur asing Evergrande bersiap untuk pemotongan sebesar 75%. Evergrande memiliki masa tenggang 30 hari sebelum secara resmi default pada obligasi dolar.

Protes dari Masyarakat dan Solusi Pemerintah

Mengatasi masalah ini, Hui perlu menjawab 1,5 juta pembeli rumahnya terlebih dahulu, orang-orang yang menyerahkan deposito atau pembayaran lunas untuk rumah yang masih dalam pembangunan di seluruh China.

Pembeli yang tidak puas di Guangzhou saja telah mengatur protes menuntut Evergrande agar memulai kembali pembangunan proyek yang dihentikan pada Mei lalu.

Adanya masalah ini membuat pemerintah China hendak memperkuat gagasan bahwa tak ada satu perusahaan pun, bahkan jika itu adalah raksasa properti sistematis seperti Evergrande, yang terlalu besar untuk gagal.

Analis di China mengatakan, pemerintah dapat meminta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lokal untuk membantu menyelesaikan properti yang belum selesai. Bank juga dapat memperpanjang pinjaman dan menegosiasikan kembali tenggat waktu dengan Evergrande sebagai bagian dari restrukturisasi.

Mengikuti perkembangan ini, regulator keuangan dilaporkan telah memperketat pengawasan rekening perusahaan guna memastikan, dana yang tersisa pertama kali digunakan untuk membangun apartemen, bukan membayar kreditur.

Namun pandangan ini masih menuai kontra. Zhou Chuanyi, analis kredit Lucr Analytics di Singapura, melihat keengganan BUMN untuk turun tangan dalam menyelamatkan proyek Evergrande yang masih dalam pembangunan. Salah satu sebabnya, yaitu rendahnya kualitas aset yang ditinggalkan Evergrande dalam pembukuannya sekarang.

Setidaknya, setengah dari proyeknya berlokasi di kota-kota China tingkat ketiga atau keempat, daerah yang relatif terpencil di mana potensi pembayarannya jauh dari jaminan. Terlebih lagi, serangkaian tindakan untuk mendinginkan pasar perumahan baru-baru ini menghalangi kenaikan harga rumah baru.

“Tidak banyak orang yang menginginkan rumah atau tanah di tingkat ketiga atau keempat,” kata Zhou.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini