5 Fakta Jakarta Tenggelam, Warga DKI hingga Bekasi Dilarang Pakai Air Tanah

Hafid Fuad, Jurnalis · Minggu 10 Oktober 2021 04:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 10 470 2483900 5-fakta-jakarta-tenggelam-warga-dki-hingga-bekasi-dilarang-pakai-air-tanah-QzSkMqibeX.jpg Warga Jakarta hingga Bekasi Bakal Dilarang Pakai Air Tanah (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintah akan mengantisipasi penurunan permukaan tanah yang terjadi di Jakarta. Karena itu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan melarang penggunaan air tanah di Jabodetabek khususnya masyarakat DKI Jakarta, Bekasi, dan Karawang.

Berikut fakta-fakta mengenai rencana pelarangan warga untuk memakai air tanah yang telah dirangkum Okezone Minggu (10/10/2021):

1. Pengganti Air Tanah

Pemerintah berencana pelarangan penggunaan air tanah untuk mengantisipasi penurunan permukaan tanah di Jakarta yang saat ini sudah terjadi.

Sebagai gantinya, pemerintah pusat dan pemerintah daerah (pemda) DKI Jakarta, Bekasi, dan Karawang akan menyediakan air minum yang berasal dari air baku yang bersumber dari Kawasan Jatiluhur.

Baca Juga: Menteri basuki Sebut SPAM Karian-Serpong Bisa Cegah Penurunan Tanah di Jakarta

Di mana, inisiasi sumber air akan diambil dari Bendungan Jatiluhur untuk SPAM regional Jatiluhur 1 dan Bendungan Karian untuk SPAM Karian Serpong.

2. Rencana Operasi Tahun 2024

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan operasional dua proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) regional yakni Jatiluhur 1 dan Karian Serpong, pada 2024 mendatang.

Baca Juga: 5 Fakta Warga DKI Akan Dilarang Pakai Air Tanah Cegah Jakarta Tenggelam

3. Memerlukan Dana yang Besar

Menurut Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR, Diana Kusumastuti, pemerintah harus menggelontorkan dana yang tidak sedikit dan upaya itu harus direalisasikan.

"Biaya besar untuk itu, biayanya cukup banyak dan itu ada beberapa dilakukan oleh PKBU (Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha), bukan Kementerian PUPR saja, bersama-sama DKI, Bekasi, Karawang, dan juga ada Kementerian Keuangan," katanya.

4. Penurunan Tanah di Jakarta Terjadi Selama 50 Tahun

BPPT melalui Tim Indonesian Network for Disaster Information (INDI 4.0) mengatakan DKI Jakarta dengan segala jenis kegiatan dan pemukiman penduduk, mengalami permasalahan penurunan muka tanah.

Direktur Pusat Teknologi Reduksi dan Resiko Bencana (PTRRB) BPPT M Ilyas menyebut, hasil kajian teknis menunjukkan bahwa perkembangan Kota Jakarta selama 50 tahun terakhir, yang diiringi oleh peningkatan aktivitas lainnya, telah menyebabkan penurunan muka tanah.

5. Diperlukan Harvesting

Tak hanya itu, Kementerian PUPR mencatat perlunya dilakukan harvesting atau penampungan air hujan setiap bangunan melalui kavling untuk menyediakan stok air.

"Harvesting itu artinya masing-masing bangunan itu harus menyimpan air di dalam kavling-kavlingnya, ini untuk menyediakan air di dalam," tutur dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini