Kisah CEO Jouska si Perencana Keuangan yang Jadi Tersangka! Ini Kronologinya

Anggie Ariesta, Jurnalis · Rabu 13 Oktober 2021 09:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 13 320 2485481 kisah-ceo-jouska-si-perencana-keuangan-yang-jadi-tersangka-ini-kronologinya-37gp7ATpaF.jpeg Kisah CEO Jouska yang Kini Jadi Tersangka. (foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - CEO PT Jouska Finansial Indonesia Aakar Abyasa Fidzuno ditetapkan sebagai tersangka. Jouska diduga melanggar UU Pasar Modal.

Sebenarnya, PT Jouska Finansial Indonesia merupakan perusahaan perencana keuangan independen yang didirikan pada 2017 oleh Aakar Abyasa Fidzuno. Sering memberikan informasi tentang investasi, Jouska menjadi pilihan banyak investor untuk melihat prediksi saham.

Jouska pun viral di media sosial usai nasabahnya beramai-ramai mengeluh rugi usai investasi. Hal itu berujung pada kasus dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan Jouska dan Aakar mulai menjadi perbincangan sejak 2020 silam.

Para investor yang merupakan korban mengaku diarahkan untuk membeli saham tertentu yang kemudian anjlok hingga 70%.

Menanggapi berbagai tuduhan itu, Aakar siap menjalani proses hukum jika klien Jouska menemukan pelanggaran legal yang dilakukan pihaknya.

Satgas Waspada Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa Jouska hanya mengantongi izin melalui Online Single Submission (OSS) untuk kegiatan jasa pendidikan lainnya. Sehingga, pada 24 Juli 2020 lalu SWI menghentikan kegiatan Jouska selaku penasihat investasi dan/atau agen perantara perdagangan efek.

Baca Juga: Bareskrim Segera Sita Aset dan Panggil CEO PT Jouska

SWI kala itu juga meminta Jouska bertanggung jawab menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi dengan nasabah secara terbuka dan mengundang korban untuk diskusi menyelesaikan masalah tersebut.

Selain itu, SWI juga meminta perusahaan afiliasi yaitu PT Mahesa Strategis Indonesia dan PT Amarta Investa Indonesia menghentikan kegiatannya. Kedua perusahaan diduga melakukan kegiatan penasehat investasi, manajer investasi atau perusahaan sekuritas tanpa izin.

Kemudian, SWI pun memanggil Aakar dan dari hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan perusahaan melakukan kegiatan usaha penasihat investasi atau manajer investasi tanpa izin. Dengan kata lain, Jouska diduga melanggar UU Pasar Modal.

Tak hanya diduga melakukan praktik penasihat keuangan tanpa izin, Jouska juga diduga melakukan pencucian uang. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) turun tangan menelusuri dugaan pencucian uang pada Agustus 2020 lalu.

Baca Juga: CEO PT Jouska Ditetapkan Jadi Tersangka Penipuan hingga TPPU

CEO PT Jouska Finansial Indonesia, Aakar Abyasa Fidzuno pun ditetapkan sebagai tersangka oleh Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri, Selasa (12/10/2021). Aakar menjadi tersangka atas dugaan tindak pidana penipuan, penggelapan, tindak pidana pencucian uang (TPPU), hingga kejahatan pasar modal.

Kuasa hukum pendamping 41 korban Jouska, Rinto Wardana mengatakan, bahwa dia akan terus mengupayakan pengembalian kerugian investasi bodong senilai Rp18 miliar ini.

"Untuk pengembalian kerugian 18 miliar tentunya harus dengan langkah gugatan perdata," kata Rinto.

Rinto menambahkan, setelah penetapan Aakar menjadi tersangka hari ini, ada 4 korban atau pelapor yang dimintai keterangan oleh penyidik.

"Setelah ini proses pemeriksaan atas Aakar akan dilanjutkan lagi sampai berkas lengkap lalu setelah itu P21 dan dilimpahkan ke Kejaksaan. Baru dapat dilimpahkan ke pengadilan," ujarnya.

Kemudian Rinto menjelaskan setelah nantinya Aakar dihukum pidana kurungan atau penjara maka perkara tersebut sudah berkekuatan hukum tetap, dan itu membuktikan bahwa benar Aakar telah melakukan tindak pidana. Selanjutnya hal itu akan dijadikan senjata untuk menagih uang korban.

"Iya soal kerugian korban akan saya tangani tahap berikutnya setelah pidana selesai," pungkas Rinto.

Kasus Jouska berpindah ke Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus-Bareskrim Mabes Polri pada awal Januari 2021, dari yang awalnya dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Alasannya, karena tipe kasus Jouska masuk ranah sektor moneter di mana pihak-pihak yang menjadi terlapor ada dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini