Menko Luhut Akui Kapitalisasi Pasar Modal Indonesia Kalah dari India dan Malaysia

Azhfar Muhammad, Jurnalis · Kamis 14 Oktober 2021 14:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 14 278 2486257 menko-luhut-akui-kapitalisasi-pasar-modal-indonesia-kalah-dari-india-dan-malaysia-vHPgRx5REU.png Menko Luhut soal Pasar Modal (Foto: Tangkapan Layar)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengakui bahwa saat ini tingkat pendalaman keuangan Indonesia (financial deepening) memang relatif masih lebih rendah dibanding negara kawasan dan emerging market lainnya.

“Data Bank Dunia menunjukkan kapitalisasi pasar Indonesia pada tahun 2020 sebesar 47% PDB, di bawah Emerging Market seperti India (99%) dan Malaysia (130%). Oleh sebab itu, berbagai inisiatif untuk mengakselerasi pengembangan dan pendalaman pasar keuangan perlu terus diupayakan,” kata Menko Luhut dalam keterangan virtual, Jakarta, Kamis (14/10/2021).

Baca Juga: 38 Perusahaan Masuk Pasar Modal RI, Menko Luhut: Tertinggi di Asean

Namun upaya yang telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir menunjukkan beberapa capaian yang patut dibanggakan, terutama di tengah tantangan Covid-19.

“Dari awal tahun sampai dengan 8 Oktober 2021, jumlah pencatatan baru saham atau new listing yang mencapai 38 perusahaan, ditambah jumlah calon perusahaan tercatat yang sedang mengantre atau sedang dalam pipeline sebanyak 25 calon perusahaan tercatat. Angka pencatatan baru saham ini juga merupakan yang tertinggi di ASEAN, serta masuk dalam urutan ke-12 di dunia," ujarnya.

Kemudian pada periode Januari hingga 8 Oktober 2021, rata-rata frekuensi mencapai 1.288.927 kali, meningkat 90 persen dibandingkan sepanjang 2020. Data frekuensi harian sejak awal tahun 2021 juga terus-menerus mencatatkan rekor terbesar sepanjang sejarah dengan yang terbaru mencapai 2.141.575 pada 9 Agustus 2021.

“Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi di BEI merupakan yang tertinggi di antara Bursa Efek kawasan ASEAN sejak tahun 2018. Dari sisi permintaan, jumlah investor yang meliputi investor saham, reksadana, dan obligasi di Pasar Modal sampai dengan 30 September 2021 jumlahnya mencapai 6,43 juta investor, meningkat 66% dibandingkan akhir akhir tahun 2020, atau hampir naik lima kali lipat sejak tahun 2017," katanya.

Sebagai catatan, angka tersebut secara umum didominasi oleh investor retail yang proporsinya mencapai 90%dari total keseluruhan investor. Meningkatnya partisipasi investor retail yang mayoritas merupakan investor domestik, merupakan pencapaian yang membanggakan sekaligus tidak disangka-sangka.

“Per akhir September 2021, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) investor retail berkontribusi sebesar 64% dari total RNTH, meningkat dibandingkan akhir tahun 2020 yang sebesar 48%. Sedangkan proprosi investor institusi terhadap RNTH saat ini sedang mengalami penurunan. Dapat disimpulkan bahwa semakin banyak masyarakat, khususnya generasi milenial dan generasi Z yang proporsinya senilai 58% dari total investor retail per Juli 2020 - yang melek terhadap investasi saham," jelasnya.

Terkait dengan aktivitas non residen/asing di Pasar Modal Indonesia, hingga Oktober 2021 tercatat besaran net inflow (MTD) senilai minus Rp3 triliun yang mana jauh lebih rendah dibandingkan Juli 2021 yang nilainya mencapai minus Rp27 triliun, yang kebanyakan disebabkan outflow di bidang obligasi pemerintah.

Sedangkan di sisi saham, secara rata-rata bulanan masih mencatatkan pembelian bersih sejak Mei 2021. Hal ini menunjukkan bahwasanya kepercayaan investor asing terhadap performa ekonomi di Indonesia, yang juga merupakan hasil dari kerja keras pengendalian dan pemulihan atas pandemi COVID-19 sangatlah penting.

Sementara itu, Luhut mengatakan bahwa pasar modal memiliki peran penting yag sangat vital dalam mendorong kemajuan Indonesia,terutama di tengah tantangan pandemi Covid 19 saat ini.

"Dalam event atau kehiatan CMSE ini saya ingin fokus terutama pada peran adaptasi dan potensi pasar modal dalam menghadapi berbagai tantangan tadi. Pasar modal memiliki peran yang sangat vital di dalam mendorong kemajuan Indonesia,” katanya.

Menurut Luhut, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dekade terakhir tidak terlepas dari dukungan pasar modal, terutama pada fungsinya sebagai penyedia dana untuk pembangunan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini