Siap-Siap! Indonesia Bakal Punya 10 Startup Bergelar Unicorn

Dominique Hilvy Febiani, Jurnalis · Kamis 14 Oktober 2021 16:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 14 320 2486379 siap-siap-indonesia-bakal-punya-10-startup-bergelar-unicorn-HHwSBp000s.jpg RI Terus Kembangkan Perusahaan Rintisan dalam Negeri. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bicara soal kerjasama industri kreatif, ekonomi digital, dan konektivitas dalam acara Forum Bisnis Indonesia-Amerika Latin dan Carribean (INA-LAC).

Menurut Retno, ekonomi kreatif memainkan peran utama dalam meningkatkan mata pencaharian dan mengurangi kemiskinan.

“Solusi inovatif adalah pendorong utama untuk mempercepat pemulihan ekonomi kita. Industri kreatif juga terbukti sangat pesat, karena telah menunjukkan pertumbuhan yang cukup besar selama pandemi,” katanya, Kamis (14/10/2021).

Baca Juga: Ingin Punya 25 Startup Unicorn, Jokowi Langsung Turun Tangan

Adapun Forum Bisnis Indonesia-Amerika Latin dan Carribean (INA-LAC) tahun ini mengangkat tema “Indonesia and Latin America and the Caribbean Partnership: Recover Together, Recover Stronger” Sidang pleno INA-LAC Business Forum dilaksanakan pada 14 Oktober 2021.

Sesi ini akan menampilkan pejabat dari Indonesia dan Amerika Latin dan Karibia. Dalam kesempatan itu, Retno ungkapkan 3 upaya Indonesia dan Amerika Latin dan Karibia dalam memperkuat hubungan ekonomi.

Selain itu, teknologi digital dan informasi telah menjadi pendukung penting bagi kelangsungan bisnis. Ia berkata sektor ini mampu memberikan peluang dengan meningkatkan potensi kerja sama dalam perdagangan digital serta ekonomi kreatif.

Baca Juga: AirAsia Jadi Startup Unicorn Baru di Asean, Kok Bisa?

“Pada saat yang sama, ekonomi digital juga berkembang. Di Indonesia hal ini tercermin dengan memiliki lebih dari 2.000 start-up, termasuk 5 unicorn dan satu decacorn. McKinsey bahkan berspekulasi bahwa setidaknya 10 unicorn lagi akan muncul dalam dekade berikutnya,” tuturnya.

Langkah selanjutnya adalah memperkuat upaya untuk menghubungkan kembali ekonomi negara. Ia berkata, berbagai tindakan pembatasan telah menghambat interaksi bisnis dan pergerakan manusia.

“Kita harus membuat langkah serius menuju pembukaan kembali dengan aman perbatasan kita. Dengan maksud untuk memfasilitasi koridor perjalanan bisnis yang penting pengaturan dengan protokol kesehatan yang ketat di tempat. Dalam jangka panjang kita bisa memperluas koridor serupa menuju pariwisata tujuan,” kata Retno.

Oleh karena itu, untuk mencapai hal tersebut perlu dijajaki saling pengakuan sertifikat vaksin antara Indonesia dengan negara-negara di Amerika Latin dan Karibia.

Upaya yang terakhir adalah menjalin kemitraan tentang keberlanjutan dan penghijauan ekonomi. Menurut Retno, upaya ini dapat berkontribusi tidak hanya dalam penciptaan lapangan kerja tetapi juga untuk pengembangan energi masa depan.

“Pandemi telah memberikan momentum bagi kita untuk mendorong ekonomi hijau. Indonesia dan negara-negara LAC memiliki aspirasi dan komitmen yang sama untuk mengurangi emisi karbon global,” ujarnya.

“Dalam mencapai hal ini, kami Indonesia telah mendorong pengembangan: ekosistem untuk kendaraan listrik, energi terbarukan termasuk biofuel dan panel surya,” sambungnya.

Oleh karena itu, Retno mengundang negara-negara LAC untuk memperkuat kerjasama investasi ekonomi hijau untuk kepentingan masa depan bersama.

Dia mengajak negara anggota INA LAC untuk memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan perdagangan dan investasi guna menghidupkan kembali perekonomian negara.

“Ini memberikan momentum yang harus kita manfaatkan untuk pemulihan yang diharapkan dan menghidupkan kembali perekonomian kita,” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini