Harga Mobil Listrik Rp600 Juta, Konsumen RI Cuma Mampu Rp300 Juta

Iqbal Dwi Purnama, Jurnalis · Jum'at 15 Oktober 2021 22:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 15 320 2487088 harga-mobil-listrik-rp600-juta-konsumen-ri-cuma-mampu-rp300-juta-xJwNZqs5Eb.jpg Mobil Listrik (Foto: Okezone/Shutterstock)

JAKARTA – Masih mahalnya harga mobil listrik atau battery electric vehicle (BEV) menjadi tantangan industri otomotif untuk transisi dari mobil pembakaran internal (internal combustion engine/ICE).

Menurut Ketua Gaikindo V Shodiq Wicaksono harga BEV masih tergolong mahal yakni Rp600 jutaan, sedangkan daya beli konsumen masih di bawah Rp300 juta. Itu artinya, ada selisih Rp300 juta yang harus dipersempit untuk mendongkrak penjualan BEV.

“PDB per kapita Indonesia saat ini masih di kisaran US $ 4.000, sehingga daya beli masyarakat untuk mobil masih di bwah Rp 300 juta,” kata Shodiq dalam Industri Otomotif Indonesia di Era Elektrifikasi, Jumat (15/10/2021).

Baca Juga: Siap-Siap! Instansi Pemerintah Bakal Diwajibkan Beli Mobil Listrik

Alhasil, penetrasi pasar kendaraan listrik di Indonesia masih relatif rendah, belum mencapai 1% dari total pasar. Berdasarkan data Gaikindo, per September 2021, penjualan BEV mencapai 611 unit, hanya 0,1% dari total pasar, sedangkan PHEV 44 unit. Adapun penjualan HEV mencapai 1.737 unit atau 0,3%.

Berdasarkan data Gaikindo, per September 2021, penjualan BEV mencapai 611 unit, hanya 0,1% dari total pasar, sedangkan PHEV 44 unit. Adapun penjualan HEV mencapai 1.737 unit atau 0,3%.

Baca Juga: Harga Terlalu Mahal Jadi Hambatan Industri Mobil Listrik di Tanah Air

Dari sisi industri komponen, perubahan dari ICE akan BEV akan mendisrupsi 47% perusahaan. Pilihan mereka ada dua, tutup atau beralih membuat komponen-komponen BEV. Namun, membuat komponen membutuhkan investasi baru dan juga pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Itu sebabnya, industri komponen lebih memilih transisi dari ICE ke mobil hibrida atau (hybrid elecric vehicle/HEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) sebelum masuk BEV. Masa transisi ini dapat dimanfaatkan industri komponen untuk membangun kompetensi.

Shodiq Wicaksono menuturkan, Indonesia membutuhkan mobil listrik, seiring terus menurunnya pasokan bahan bakar fosil. Kemudian, BEV bisa mendorong pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi EV. Mobil listrik juga bisa menurunkn emisi gas buang. Apalagi, pemerintah sudah menetapkan target 25% mobil yang dijual pada 2025 merupakan mobil listrik.

Dari sisi industri mobil, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai, diperlukan transisi alami dari ICE ke BEV, seperti halnya pergeresan dari transmisi manual ke otomatis. Ini untuk menghindari dampak negatif perubahan struktur industri otomotif.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini