Waspada Kena Jebakan Penipuan Atas Nama Bea Cukai! Pejabat Negara Jadi Korban, Ini Modusnya

Anggie Ariesta, Jurnalis · Senin 18 Oktober 2021 12:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 18 622 2487965 waspada-kena-jebakan-penipuan-atas-nama-bea-cukai-pejabat-negara-jadi-korban-ini-modusnya-4auGABkyjf.jpg Penipuan Atas Nama Bea Cukai (Foto: Okezone)

JAKARTA - Modus penipuan yang mengatasnamakan Bea Cukai. Tercatat, aduan penipuan yang mengatasnamakan Bea Cukai ada sekitar 3.284 pada 2020, sementara per Mei 2021 hanya ada 910.

Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Bea Cukai Syarif Hidayat mengatakan, penipuan online ini sangat mudah dilakukan pelaku karena literasi dan sosialisasi masyarakat masih kurang jadi gampang ditipu.

"Melihat yang ditawarkan secara sense sebenarnya barang murah tidak mungkin, di YouTube kita membuat film pendek penipuan Bea Cukai, kita tak bosan-bosannya melakukan sosialisasi di Instagram dan media sosial kita yang lainnya seperti Twitter, memperingatkan masyarakat berhati-hati terhadap modus penipuan ini," kata Syarif dalam Market Review IDX Channel, Jakarta, Senin (18/10/2021).

Baca Juga: Waspada! Penipuan Online Berkedok Tagihan Bea Cukai Jelang Lebaran

 

Modus penipuan atas nama Bea Cukai antara lain:

1. Pelaku akan berkenalan dan menjalin pertemanan yang berujung dengan modus pengiriman uang/barang, online shop fiktif, dan lelang palsu dengan harga barang yang sangat murah.

2. Semua modus memiliki ciri-ciri yaitu korban akan dihubungi oleh orang yang mengaku petugas Bea Cukai dengan nomor telepon pribadi, dan memberitahu bahwa barang yang dikirimkan atau dibeli ditahan oleh Bea Cukai.

3. Korban diminta mentransfer sejumlah uang ke sebuah rekening pribadi, agar barang dapat dikirimkan, disertai ancaman untuk menakut-nakuti korban.

"Permasalahannya modus penipuan online ini adalah tindak pidana yang bukan ranahnya Bea Cukai, ini pun Bea Cukai menjadi korban karena nama kita digunakan oleh mereka," ujar Syarif.

Sehingga penyelesaian kasus pidana ini, yang bersangkutan yaitu korban atau pelaku sebisa mungkin melapor ke Bea Cukai dan juga ke pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti dari sisi pidana. Permasalahannya ternyata korban tidak mau menindaklanjuti, sehingga kasusnya berhenti.

"Tetapi kita juga tidak hilang akal, kita juga melakukan komunikasi dengan Kepolisian RI baik di pusat maupun daerah, dan kita akan terus melakukan sosialisasi atas modus penipuan ini dan di daerah pun kita menindaklanjuti laporan yang ada dan kita juga menemukan pelakunya yang langsung ditangkap oleh polisi," katanya.

Penipuan ini ternyata ada yang dikendalikan dari Lapas, dengan kata lain modus penipuan ini terstruktur karena berkelompok. Kemudian modus dilanjut dengan intensif lewat media sosial yang biasanya berawal dari ketertarikan antar lawan jenis.

Mekanisme resminya apabila kita melakukan suatu jual beli dengan barang yang berasal dari luar negeri bisa dilakukan pengecekan di website resmi Bea Cukai dan ditelusuri barang kiriman sudah sampai mana karena ada resinya. Jika melalui jasa titipan seperti DHL, Fedex, Kantor Pos juga sangat jelas.

"Cuma terkadang mereka (penipu) memalsukan dokumen-dokumen ini seolah itu dikirim oleh Fedex, Japan Post misalnya. Itu laporkan aja dan akan dilakukan pengecekan di kita karena itu di online apabila resi itu tidak muncul, berarti kemungkinan besar itu penipuan," kata Syarif.

Korban ternyata sangat merata, mulai dari perkotaan hingga desa bahkan PNS dan pejabat negara. Ini menunjukkan penipuan online ini marak terlihat dengan orang intelektual juga terjerat.

"Tentunya kami harapkan penipuan berkurang, sekiranya nanti masyarakat umum menyebarkan informasi agar tidak ada lagi yang tertipu. Kita bersosialisasi secara gencar dengan media, bahwa modus penipuan ini dikenali oleh rakyat sehingga masyarakat tidak ada yang kena lagi," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini