Mengintip Prospek Emiten Ritel di Tengah Pelonggaran PPKM

Dinar Fitra Maghiszha, Jurnalis · Selasa 19 Oktober 2021 08:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 19 278 2488378 mengintip-prospek-emiten-ritel-di-tengah-pelonggaran-ppkm-KVzOa07yKM.jpg Menilik prospek emiten ritel (Foto: Antara)

JAKARTA - Pemerintah kembali menurunkan level PPKM di Jawa-Bali hingga 1 November 2021. Sejumlah pelonggaran dilakukan seperti penambahan kapasitas bioskop menjadi 70% dan diperbolehkannya anak usia di bawah 12 tahun masuk tempat wisata.

Pelonggaran pembatasan secara otomatis memberikan pengaruh terhadap pergerakan sejumlah emiten di sektor ritel pasar modal Indonesia menjelang laporan keuangan perusahaan pada akhir tahun.

Baca Juga: Anak di Bawah 12 Tahun Boleh ke Tempat Rekreasi, Ini Kata Wagub DKI

Pengamat Pasar Modal, Asosiasi Analis Efek Indonesia, Reza Priyambada menilai pelonggaran ini harus sejalan dengan tingkat daya beli masyarakat mengingat hal tersebut mencerminkan kondisi pengeluaran konsumen.

"Mau PPKM longgar atau tidak kalau daya beli masyarakat bisa terjaga maka persepsinya akan positif. Lagipula, selama PPKM, katakanlah orang tidak keluar rumah tetapi masih bisa belanja secara online/daring," kata Reza kepada MNC Portal, Selasa (19/10/2021).

Baca Juga: Indikator Wilayah Aglomerasi Berubah, DKI Jakarta Turun Level PPKM?

Reza membaca pergerakan sektor ritel di pasar modal juga dipengaruhi oleh sejumlah laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai tingkat konsumsi masyarakat. Menurutnya, hal ini diasumsikan dapat berimbas pada pendapatan emiten-emiten ritel.

"Untuk emiten-emiten ritel, sebenarnya itu akan tergantung dari minat dan daya beli masyarakat. Biasanya BPS atau lembaga-lembaga riset tertentu suka keluarkan hasil survei konsumsi masyarakat. Nah, ini akan menjadi penilaian pelaku pasar bagaimana daya beli di masyarakat dan bagaimana pengeluaran masyarakat, untuk apa aja," lanjutnya.

Belakangan ini Kepala BPS Margo Yuwono merinci ada kenaikan upah riil dari buruh yang didorong oleh indeks konsumsi rumah tangga yang mengalami deflasi pada September 2021.

"Kalau untuk belanja maka bisa dinilai konsumsi dan daya beli masyakarat dinilai membaik. Dan itu akan diasumsikan dapat berimbas pada pendapatan emiten-emiten ritel," terangnya, sembari menambahkan bahwa investor perlu mencermati emiten ritel mana yang unggul dalam digitalisasi produk mereka.

"Nah, justru di sini nanti akan terlihat ritel-ritel yang mana aja yang dapat bertahan, baik dia sedang build-up platform belanja digitalnya atau sudah masuk dalam ekosistem platform digital yang ada," tambahnya.

Kepada investor, dirinya merekomendasikan untuk mencermati sejumlah emiten seperti RALS, MAPI, LPPF, dan ACES.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini