Pupuk Kaltim Siap IPO di Semester I-2022

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Selasa 19 Oktober 2021 13:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 19 278 2488522 pupuk-kaltim-siap-ipo-di-semester-i-2022-Tg5yQoRXyd.jpg Pupuk Kaltim Bakal IPO (Foto: Okezone/Shutterstock)

JAKARTA – Mengikuti jejak beberapa BUMN yang sukses menggelar IPO untuk mendanai pengembangan bisnisnya, rupanya bakal diikuti PT Pupuk Indonesia (Persero) yang tengah mematangkan persiapan anak usahanya PT Pupuk Kalimantan Timur atau Pupuk Kaltim dalam melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham pada semester I-2022. Di mana, target dana yang diincar diprediksi akan cukup fantastis.

Direktur Transformasi Bisnis Pupuk Indonesia, Panji Winanteya Ruky mengatakan, pelaksanaan IPO fleksibel bergantung pada kondisi pasar, namun dipastikan akan berlangsung dalam semester pertama tahun depan. Untuk target dananya juga akan disesuaikan dengan proyek strategis yang sedang dipersiapkan.

Baca Juga: Menilik Prospek IPO Nusantara Sawit Sejahtera 

”Untuk range nilainya kami masih terbuka, akhir tahun ini sudah lebih jelas angkanya. Tapi, kalau bicara kisaran proyek-proyek itu satu pabrik amonia bisa Rp 6-7 triliun, ada juga beberapa pabrik yang akan kita investasi baik sendiri mau joint venture,” ujarnya seperti dilansir Harian Neraca, Selasa (19/10/2021).

Adapun, penggunaan dana IPO, mayoritas akan dialokasikan untuk pengembangan kapasitas produksi untuk memenuhi pasar ekspor komersial maupun pupuk bersubsidi dengan teknologi baru.

Baca Juga: IPO, Nusantara Sawit Sejahtera Bidik Dana Rp1,6 Triliun

"Pupuk Kaltim juga akan mendekati sumber gas alam di Indonesia timur sebagai langkah perseroan untuk mengurangi karbon emisi. ‘ESG (environmental, social, and governance) kami juga punya strategi untuk ke sana,” tambah Panji.

Secara terpisah, Direktur Utama Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi mengatakan, dana IPO dibutuhkan mengingat kebutuhan investasi perseroan hingga US$ 2,5 miliar atau setara Rp 35,9 triliun dalam 5 tahun ke depan. Pasalnya, untuk mengembangkan pabrik amonia urea di Bintuni setidaknya membutuhkan hingga USD2 miliar dan sisanya untuk pengembangan pabrik perseroan di Bontang, Kalimantan Timur.

Di Bintuni perseroan akan memproduksi Methanol dengan kapasitas 1 juta ton per tahun dan pupuk urea dengan kapasitas 1,15 juta ton per tahun. Adapun untuk sumber dana, Rahmad menyebut senilai USD 500 juta bisa dicukupi dari kas perseroan. Sementara untuk USD2 miliar ini yang masih dipertimbangkan mengingat jika bersumber dari hutang dinilai akan sangat berisiko.

"Jadi kami buka berbagai peluang mungkin strategic partnership atau IPO yang tentu terus kami jajaki," ujarnya.

Sebagai informasi, PT Pupuk Kalimantan Timur sebagai produsen pupuk urea terbesar di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara mencatat capaian positif dengan kinerja produksi mencapai 5,15 juta ton atau 106% dari RKAP (Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan) Triwulan III 2021.

Disampaikan Rahmad Pribadi, capaian positif juga terlihat dari laba setelah pajak yang nilainya Rp4,19 triliun atau 288%,”Meskipun dihadapkan pada sejumlah tantangan pandemi, kinerja Pupuk Kaltim tetap stabil, dengan pendapatan tumbuh 8,5% di 2020, dan urea dengan kontribusi terbesar hingga 78% dari total pendapatan selama 2016 - 2020," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini