Dampak Ekonomi Kereta Cepat Jakarta-Bandung Baru Terasa 30 Tahun

Erlinda Septiawati, Jurnalis · Selasa 19 Oktober 2021 15:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 19 320 2488598 dampak-ekonomi-kereta-cepat-jakarta-bandung-baru-terasa-30-tahun-EMso6eKGR7.jpg Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung dinilai penting sebagai transportasi masa depan. Pasalnya, selain menjadi alternatif kepadatan rute di jalan tol, proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung secara tidak langsung menangkap kebutuhan masyarakat di berpuluh-puluh tahun yang akan datang.

Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengungkapkan, rute Jakarta Bandung dapat dilalui jalan tol dan kereta api. Namun, pertumbuhan penumpang setiap tahunnya dapat menjadi solusi dari kehadiran Kereta Cepat Jakarta Bandung.

Baca Juga: KCIC Klaim Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bawa Teknologi Baru

“Dampak proyek ini pasti sangat panjang, dan nantinya dengan adanya kereta cepat, nanti konektivitas regional terbangun,” jelas, Sekretaris Jenderal MTI Harya Setyaka Dillon, Selasa (19/10/2021).

Dari sisi ekonomi, memang dampak kereta cepat memang tidak akan dirasakan dalam 5 tahun pertama masa operasional, melainkan 10 hingga 30 tahun ke depan.

Baca Juga: Proyek Kereta Cepat Disuntik APBN, Emang Perlu?

“Akan terasa manfaatnya. Ini tidak jauh berbeda dengan jalan tol, bandara, pelabuhan. Saat baru diresmikan, pelabuhan mungkin baru dirasakan manfaatnya 15 tahun ke depan,” katanya.

Sebelumnya, proyek kereta cepat menjadi sorotan publik, setelah proyek tersebut rencananya akan mendapatkan kucuran dari kas keuangan negara.

Padahal, proyek tersebut sebelumnya dibangun dengan skema business to business (B to B). Keputusan pemerintah yang akhirnya turun tangan tak lepas dari ancaman pembengkakan biaya pengerjaan proyek, yang bisa berujung pada proyek yang akhirnya tak berjalan.

Harya menilai, pembengkakan biaya proyek yang semula USD6,07 miliar menjadi USD8 miliar atau sekitar Rp114,4 triliun. Kondisi pandemi Covid-19 dalam dua tahun terakhir memang menempatkan pemerintah dan konsorsium kereta cepat pada posisi yang sulit.

“Sebagus-bagusnya perencanaan, Covid-19 itu ada di luar rencana yang paling baik sekalipun. Pertanyannya sekarang, proyek ini mau dimangkrakan atau dilanjutkan,” kata Harya.

Harya menegaskan situasi ini tidak hanya dialami Indonesia. Menurutnya, banyak pembangunan infrastruktur di negara lain yang juga terganggu karena pandemi Covid-19.

“Ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Di negara lain juga mengalami dilema yang sama dan tidak ada satupun yang memilih untuk memangkrakan proyek. Kasus Covid sudah rendah, tapi jangan lupa ada dampaknya,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini