Konsumsi Lesu, Mesin Pertumbuhan Ekonomi RI Berharap pada Investasi

Anggie Ariesta, Jurnalis · Kamis 21 Oktober 2021 16:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 21 320 2489687 konsumsi-lesu-mesin-pertumbuhan-ekonomi-ri-berharap-pada-investasi-o7dGb9DTeC.jpg Menteri Investasi Bahlil (Foto: Setkab)

JAKARTA - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II sebesar 7,07%. Hal tersebut kontribusi paling besar dari konsumsi dan investasi.

"Dan kalau kita melihat dari beberapa perkembangan hasil survei, konsumsi ini sudah stuck makanya tinggal investasi kita dorong. Nah disini kita membutuhkan kolaborasi yang baik, disini ada Bu Menkeu Pak Menko juga tetap mengedepankan kita," ucap Bahlil secara virtual, Kamis (21/10/2021).

Baca Juga: Ke Belanda, Bahlil Bahas Investasi Industri Pakan Ternak

Dalam konteks tersebut, kolaborasi dalam bentuk OSS saat sudah terimplementasikan dan sekarang pihaknya lebih mendorong pada investasi. Lebih lanjut Bahlil menjelaskan ada tiga cara yang dikedepankan, yang pertama adalah hilirisasi sebagai bentuk penerjemahan daripada transformasi ekonomi.

"Tidak bisa lagi kita dengan cara-cara lama hanya mengirim bahan baku, lingkungan tetap kita harus jaga, karena itu untuk hilirisasi khususnya nikel dan akan merambah pada persoalan lain di bawah arahan Bapak Presiden dan hasil diskusi dengan Pak Menko, bahwa tetap ini kita harus jadikan industri yang minimal 70% nilai tambahnya sudah masuk Indonesia," jelasnya.

"Tidak bisa lagi kita main seperti lama-lama, kalau lama-lama itu bukan, jual Tanah Air itu namanya," imbuh Bahlil.

Baca Juga: Kenang Ekonom Indef Enny Sri Hartati, Menteri Bahlil: Senior yang Baik

Kemudian yang kedua adalah persoalan industri, Kementerian Investasi juga ada beberapa alternatif kawasan industri yang akan datang.

"Semua infrastruktur sudah siap, silahkan masuk kesana, pasti tanahnya juga lebih murah dan izinnya akan diurus oleh pemerintah biar clear," katanya.

Selanjutnya cara ketiga bagi investor yang melakukan investasi di luar pulau Jawa, di daerah-daerah yang susah seperti NTT, Kalimantan, Maluku dan Papua atau sebagian di Sumatera, mereka pasti akan diberikan suatu preseden sendiri dalam konteks insentif selama dia mendorong substitusi impor dan untuk mencapai nilai tambah yang baru.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini