Pefindo Terima Mandat Obligasi Rp28 Triliun, Berikut Rinciannya

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Jum'at 22 Oktober 2021 14:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 22 278 2490104 pefindo-terima-mandat-obligasi-rp28-triliun-berikut-rinciannya-339X8cMhkL.jpg Pefindo Terima Mandat Obligasi (Foto: Okezone/Shutterstock)

JAKARTA - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) telah menerima Rp28 triliun mandat surat utang korporasi yang belum listing hingga 30 September 2021.

Berdasarkan data Pefindo, total rencana penerbitan surat utang korporasi terbanyak yang belum listing berasal dari sektor multifinance, yakni dari tiga perusahaan senilai Rp5,8 triliun. Kemudian, di posisi selanjutnya adalah sektor perkebunan sebanyak Rp3,5 triliun, konstruksi Rp3 triliun dan pembangkit listrik Rp3,4 triliun.

Kepala Divisi Pemeringkatan Korporasi Pefindo, Niken Indriarsih mengatakan, dari jenis surat utang yang diterbitkan, masih didominasi oleh rencana Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) senilai Rp10,3 triliun.

Baca Juga: Emiten Perbankan Ramai-Ramai Gelar Aksi Korporasi, Investor Harus Apa?

"Ini terkait PUB berkelanjutan tahap II dan selanjutnya ya. Diikuti PUB baru sebanyak Rp7,2 triliun, ini untuk penerbitan baru, tahap pertama," ujarnya di Jakarta, Jumat (22/10/2021).

Pefindo juga menerima mandat penerbitan obligasi biasa tanpa tahap PUB dengan rencana emisi Rp4,9 triliun.

Kemudian rencana emisi medium term notes (MTN) Rp2,4 triliun, sekuritisasi Rp1,8 triliun, dan sukuk senilai Rp1,4 triliun. Adapun dari sisi institusi, sebanyak 9 mandat datang dari perusahaan BUMN dan anak perusahaannya dengan rencana emisi Rp11,4 triliun.

Baca Juga: Meleset dari Target, Pratama Widya Pangkas Kontrak Jadi Rp252 Miliar

Sisanya, datang dari non-BUMN yakni dari 14 perusahaan, dengan rencana emisi Rp16 triliun. Selain itu, Pefindo juga menegaskan, melihat kasus gagal bayar perusahaan properti China, Evergrande, berdampak netral ke korporasi di Indonesia.

Disampaikan analis Pefindo, Yogie Surya Perdana, banyak hal yang mengakibatkan Evergrande mengalami default. Salah satunya, kata dia, akibat diversifikasi yang dilakukan perseroan ke usaha di luar properti.

"Bisnisnya mereka banyak sekali dan mereka mulai diversifikasi ke non-core di properti. Itu di-leverage dengan utang,"ujarnya.

Di sisi lain, kata dia, permintaan properti di China juga mengalami penurunan. Akumulasi dari masalah tersebut menyebabkan Evergrande mengalami gagal bayar. Tapi kalau dampaknya ke sektor korporasi Indonesia sendiri, balik lagi, itu netral. Karena dari investor pun harusnya mengetahui kenapa Evergrande bisa di posisi sekarang," ucap dia.

Adapun dia melihat sektor properti di dalam negeri sendiri trennya sudah melemah sebelum Covid-19. Akan tetapi, hingga semester I/2021, menurutnya terjadi tren positif dengan agregat pra penjualan yang menunjukkan pertumbuhan dibandingkan semester I/2020.

Namun, kata dia, pertumbuhan pra penjualan ini berangkat dari angka yang rendah selama awal pandemi di semester I/2020.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini