BNI Cetak Laba Rp7,7 Triliun di Kuartal III-2021, Meroket 73,9%

Sevilla Nouval Evanda, Jurnalis · Senin 25 Oktober 2021 14:37 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 25 278 2491343 bni-cetak-laba-rp7-7-triliun-di-kuartal-iii-2021-meroket-73-9-In11RBmkup.jpg BNI Cetak Laba Bersih (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencetak laba bersih Rp7,7 triliun pada kuartal III-2021. Laba bersih ini meroket 73,9% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp4,3 triliun.

"Pertumbuhan laba ini utamanya berasal dari pertumbuhan Fee Based Income dan Net Interest Income masing-masing sebesar 16,8% dan 17,6% secara YoY," kata Direktur Utama BNI Royke Tumilaar dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (25/10/2021).

Baca Juga: Pertama di Indonesia, BNI Terbitkan AT-1 Capital Bond Rp8,6 Triliun

Royke menambahkan, pencapaian ini juga merupakan hasil dari transformasi digital BNI yang salah satunya ditujukan untuk penguatan kapabilitas dalam transactional banking. BNI mencatat kinerja penghimpunan dana murah yang sangat sehat, salah satu faktor pendukung kredit yang solid. Di mana komposisi himpunan dana murah atau CASA mencapai 69,7% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) atau tertinggi dalam 10 tahun terakhir ini.

CASA tumbuh 8% YoY, yaitu dari Rp431,3 triliun pada kuartal III-2020 menjadi Rp465,7 triliun pada kuartal III-2021. CASA mendominasi DPK yang juga tumbuh 1,4% YoY dari Rp659,52 triliun pada kuartal III-2020 menjadi Rp668,55 triliun pada kuartal III-2021.

"Pertumbuhan CASA tersebut berdampak pada penghematan beban bunga sebesar 10 basis point dari kuartal sebelumnya," katanya.

Sementara itu, pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) tumbuh 21,0% YoY yang tercapai dengan adanya struktur pendanaan (funding) berbiaya murah yang kuat, di mana berkontribusi dalam recovery Net Interest Margin (NIM) sebesar 50 basis point YoY.

Pendapatan Bunga Bersih (NII) meningkat 17,6% YoY, yaitu dari Rp24,39 triliun dari Kuartal III-2020 menjadi Rp28,70 triliun pada Kuartal III-2021. Pertumbuhan NII ini merupakan efek pendistribusian kredit BNI yang masih tumbuh 3,7% YoY, yaitu dari Rp 550,07 triliun pada Kuartal III-2020, menjadi Rp 570,64 triliun pada Kuartal III-2021.

Perseroan juga mencatatkan pertumbuhan Pendapatan Non Bunga yang kuat sebesar 14,2% YoY, yaitu dari Rp 8,94 triliun pada Kuartal III-2020, menjadi Rp10,21 triliun pada Kuartal III-2021. Pertumbuhan Pendapatan Non Bunga ini bersumber dari peningkatan kinerja sumber FBI penting perseroan, seperti Pemeliharaan Kartu Debit dan Rekening yang tumbuh 5,8% YoY dari Rp 1,81 triliun pada Kuartal III-2020 menjadi Rp1,92 triliun pada Kuartal III-2021; kemudian pendapatan layanan ATM dan e-channel yang tumbuh 12,4% YoY dari Rp 1,01 triliun pada Kuartal III-2020, menjadi Rp 1,14 triliun pada Kuartal III-2021; demikian juga FBI dari layanan Trade Finance yang meningkat 19,8% YoY dari Rp 901 miliar pada Kuartal III-2020, menjadi Rp1,08 triliun pada Kuartal III-2021; serta pendapatan komisi dari Marketable Securities yang tumbuh 54,4% YoY dari Rp 1,04 triliun pada Kuartal III-2020 menjadi Rp1,59 triliun pada Kuartal III-2021.

Pada Kuartal III-2021, BNI terus melanjutkan fokus untuk memperkuat permodalan sehingga BNI memiliki struktur modal yang kuat dalam mendukung ekspansi bisnis.

Pada bulan September 2021, BNI sukses menerbitkan USD600 juta perpetual bond dengan 2,7 kali oversubscribed (di atas jumlah yang ditawarkan) yang dapat dikategorikan sebagai tambahan modal inti utama bagi BNI. Penerbitan ini merupakan yang pertama dilakukan oleh perbankan di Indonesia.

Dengan adanya penerbitan AT-1 ini, modal inti BNI naik 140 basis point sehingga rasio CAR dan Tier 1 BNI per September 2021 meningkat menjadi masing-masing 19,9% dan 17,8%, sudah mendekati rasio bank pesaing lainnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini