Tingkat Kemiskinan Menurun, di Perkotaan Masih Tinggi

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Senin 25 Oktober 2021 11:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 25 320 2491215 tingkat-kemiskinan-menurun-di-perkotaan-masih-tinggi-wEfFV9hGKu.jpg Angka Kemiskinan Turun. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Tingkat kemiskinan hingga September 2021 tercatat menurun dibandingkan Maret 2021. Terlihat dari jumlah penduduk miskin di pedesaan yang turut menunjukkan perbaikan.

"Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) di bulan Maret 2020 tingkat kemiskinan kita sebesar 9,78% kemudian jika dibandingkan Maret tahun ini mengalami peningkatan, sebesar 10,14%. Tetapi BPS sudah merilis data terbaru dan dilihat pada September tahun ini, tingkat kemiskinan kita sudah turun. Begitu juga dengan jumlah penduduk di pedesaan yang mengalami penurunan kecuali di perkotaan," ujar Staf Ahli Bidang Sosial, Politik dan Kebijakan Publik Kementerian Ketenagakerjaan RI, Ismail Pakaya saat diskusi di Market Review, Senin (25/10/2021).

Baca Juga: Wapres Minta Penanggulangan Kemiskinan Ekstrem Dipercepat

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun menargetkan untuk memberantas tuntas angka kemiskinan ekstrem pada 2024. Di mana pada 2024, tingkat kemiskinan Indonesia akan berada pada kisaran 6-7%, sedangkan kemiskinan ektrem berkisar antara 0-1%.

Adapun prioritas pengentasan kemiskinan ekstrem akan di fokuskan di 35 kabupaten/kota di tujuh provinsi yang mencakup Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Papua Barat.

Baca Juga: Menaker Antisipasi Tingkat Kemiskinan di Perkotaan

Sehubungan dengan target Presiden, Ismail mengatakan bahwa Kemnaker memiliki dua strategi. Pertama, perluasan kesempatan kerja dan kedua adalah meningkatkan kompetensi melalui pelatihan vokasi di balai pelatihan kerja (BLK) yang disediakan pemerintah.

Lebih lanjut, dalam perluasan kesempatan kerja pun dibagi menjadi dua, yaitu perluasan kesempatan kerja di luar hubungan kerja dan perluasan kesempatan kerja di dalam hubungan kerja.

"Di luar hubungan kerja ini kami intervensi dengan program-program tenaga kerja mandiri, inkubasi bagi wirausaha atau tenaga kerja mandiri yang ada di dalam 35 kabupaten kota yang menjadi prioritas pemerintah. Dari segi meningkatkan kompetensi, kami akan melakukan berbagai pelatihan tentu dengan harapan setelah mereka dilatih, keterampilannya meningkat dan bisa masuk ke pasar kerja," bebernya.

"Ini ada kaitannya dengan perluasan kesempatan kerja di dalam hubungan kerja. Karena di dalam hubungan kerja itu adalah melakukan fasilitasi penempatan bagi mereka-mereka yang sudah dilatih di luar lembaga pelatihan sehingga menjadi pekerja formal," sambung Ismail.

Oleh karena itu, dia bilang, jika mereka sudah menjadi pekerja formal maka akan mendapatkan upah yang layak sehingga mampu meningkatkan pendapatan. Sementara, untuk skema pelatihan vokasi, pemerintah akan melihat sesuai dengan potensi pada daerah masing-masing.

Di samping itu, Ismail menambahkan, angka pengangguran di Indonesia lebih didominasi daerah pedesaan dibandingkan perkotaan. Hal itu tercermin dari komposisi pendidikan di desa lebih rendah serta usia kerja di pedesaan lebih didominasi oleh para pekerja yang berusia 30 tahun ke atas.

"Dari komposisi pendidikan, level pendidikan di pedesaan itu lebih rendah dibanding yang ada di perkotaan termasuk usia kerja. Di pedesaan lebih banyak yang berusia 30 tahun ke atas, sedangkan di perkotaan lebih didominasi pekerja muda. Inilah yang jadi perhatian tambahan kami di dalam memberikan intervensi program khususnya untuk daerah prioritas," tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini