Sulap Limbah Kotoran Sapi Jadi Cuan

Avirista Midaada, Jurnalis · Kamis 28 Oktober 2021 17:46 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 28 455 2493301 sulap-limbah-kotoran-sapi-jadi-cuan-tHdNMwfIqu.jpg Sulap Limbah Kotoran Sapi Jadi Cuan (Foto: MPI)

MALANG - Melimpahnya peternakan sapi di Dusun Bendrong, Desa Argosari, Kabupaten Malang, ternyata dimanfaatkan betul oleh warga.

Limbah kotoran sapi yang selama ini dinilai merugikan dan mencemari lingkungan, dikelola melalui kelompok tani setempat.

Hal ini menjadikan limbah kotoran sapi yang dijadikan bahan baku gas metan yang dimanfaatkan warga Dusun untuk memasak. Kini ratusan warga desa yang terletak di lereng Gunung Bromo, merasakan bagaimana limbah kotoran sapi yang dinilai merugikan bisa diolah dan dikelola sedemikian rupa.

Seorang warga Dusun Bendrong Argosari, Jannah menyatakan, sebelum menggunakan gas metana hasil pengelolaan limbah kotoran sapi, dia menggunakan kayu bakar untuk memasak.

Pembangunan sistem pengelolaan limbah kotoran sapi berbasis biogas pada 2010, ini telah membuat pengeluarannya lebih hemat. Dia tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli tabung elpiji atau mencari kayu jauh ke hutan.

"Jauh lebih hemat dan mudah, sebelumnya masak di tungku pakai kayu," kata perempuan berusia 62 tahun ini.

Baca Juga: Pria Ini Bangun Tembok dari Kotoran Sapi karena Jengkel dengan Tetangga

Kini Jannah tak perlu lagi risau harus kehabisan kayu bakar atau tabung elpiji, sebab kebutuhan suplai kompornya telah terpenuhi melalui saluran - saluran biogas yang dikelola dari limbah kotoran sapi. "Ya Alhamdulillah jadi lebih mudah. Lebih untung kalau secara hitungan," ujarnya.

Sementara itu Ketua Kelompok Tani Usaha Maju II Muhammad Slamet menuturkan, awalnya pemanfaatan biogas hanyalah sebagai bagian dari mengelola limbah kotoran sapi. Limbah - limbah ini sebelumnya hanya dibuang begitu saja ke sungai dan membuat ekosistem lingkungan tercemar. Tapi sejak tahun 2008 pihaknya mencoba mengelola limbah kotoran sapi, yang kerap dikeluhkan.

"Jadi kita mulai tahun 2008, tujuan awalnya ada potensi limbah yang belum termanfaatkan. Jadi kita tergerak untuk mengelola limbah menjadi biogas, jadi tujuan utama kita mengelola limbah," ucap Slamet.

Awal mula pengembangan biogas pihaknya bersama warga memanfaatkan alat seadanya. Bahkan reaktor biogasnya terbuat dari plastik, hal ini karena keterbatasan anggaran. Tapi seiring berjalannya waktu, bahan baku reaktor biogas dari plastik termakan usia sehingga kerap kali rusak. Inilah yang membuat warga akhirnya beralih ke reaktor biogas permanen.

Apalagi warga sudah merasakan manfaat dari pengembangan biogas selama 10 tahun lebih. eberapa warga yang mampu bahkan telah membuat reaktor biogas fix dome berbahan beton permanen. Jumlah reaktor pun terus bertambah, bila di tahun 2010 lalu misalnya ada 234 unit, di tahun 2021 ini reaktor yang berbahan beton permanen sudah mencapai 158 unit reaktor biogas beton, dengan harga mencapai Rp 40 juta dengan kapasitas 20 meter kubik dan 30 meter kubik. Jumlah itu belum termasuk reaktor biogas warga yang masih menggunakan bahan plastik.

"(Reaktor berbahan plastik) ada usia ekonomisnya, maksimal 5 tahun, kita jalan mulai tahun 2008 hampir 12 tahun berjalan, pastinya plastiknya banyak yang rusak. Akhirnya masyarakat yang sudah merasa mampu untuk membangun biogas dengan konstruksi beton banyak yang beralih ke beton, pakai fix dom, dibangun sudah mencapai 158 unit," ujar dia.

Manfaat besar menjadikan banyak warga di Dusun Bendrong, Desa Argosari kini memilih menggunakan biogas dari limbah kotoran sapi yang dikelola. Selain mampu menghemat pengeluaran untuk elpiji, kotoran sapi yang kerap bau dan menimbulkan persoalan lingkungan bisa sedikit teratasi.

"Dengan menggunakan biogas masyarakat merasa diuntungkan, karena sudah tidak lagi membeli elpiji, buktinya kalau mereka nggak merasa diuntungkan, pastinya mereka tidak membangun lagi kan gitu.

Ini malah membangun yang tipe permanen dengan beton, berarti mereka diuntungkan sehingga nanti dengan menggunakan biogas bisa mengurangi biaya kebutuhan perhari di rumah," katanya.

"Kalau secara hitungan ekonomis dibandingkan antara penggunaan gas elpiji dengan biogas memang relatif lebih murah biogas, kenapa karena masyarakat hanya butuh tenaga kerja untuk mengisi limbah itu, sehingga kalau dikonversikan diuangkan jatuhnya lebih murah biogas seandainya tenaga mereka dihargai," imbuhnya.

Manfaat yang didapat inilah membuat sejumlah warga lain berlomba membangun reaktor biogas dengan meminjam ke koperasi. Nantinya pembayaran tersebut akan diangsur melalui sistem pemotongan peras susu.

"Artinya koperasi menalangi dulu pembangunan biogas, nanti di angsurannya dipotong melalui peras susu. Jadi tergantung berapa potongannya tergantung kapasitasnya (susu yang disetorkan)," ungkap dia.

Kini dengan bertambahnya jumlah sapi perah yang dimiliki warga, menjadikan kapasitas biogas kian tinggi. Dari total terdapat sekitar 3 ribu lebih ekor sapi, baru setengahnya yang bisa limbahnya dikelola. Keterbatasan peralatan, keuangan, dan area luasan, menjadikan belum seluruhnya kotoran sapi bisa dimanfaatkan menjadi biogas, yang dapat dimanfaatkan warga untuk memasak.

"Dulu ketika pertama kali kita mengembangkan biogas jumlah ternaknya masih sekitar 1.500, sekarang lebih dari 3.000 ekor. Jadi kalau misalkan ada sekitar 3 ribu ekor sapi, mestinya tersedia 3.000 meter kubik, sementara di kita rata-rata berkapasitas volume 8 meter kubik, rata-rata masih ada 158 unit dikali 8, jadinya sekitar 900 sekian ekor sapi yang limbahnya sudah bisa diolah, jadi masih banyak yang belum terolah," paparnya.

Kini ia berharap kapasitas pengolahan limbah kotoran sapi bisa dimaksimalkan dengan pengadaan alat reaktor biogasnya. Selain itu ke depan tak hanya dimanfaatkan untuk memasak saja, tapi biogas akan dicoba dikelola untuk kebutuhan energi warga.

Tapi Slamet mengakui hal ini tak mudah, perlu peningkatan alat dan kerjasama seluruh warga, apalagi saat ini listrik dari aliran PLN telah masuk ke dusun tersebut. Jadi warga menganggap memilih hal yang mudah dan ribet mengandalkan pasokan listrik dari PLN.

"Kalau rencana kan ada, tetapi kendalanya kan tadi satu peralatan dan permasalahan finansial. Apalagi sekarang sudah ada PLN yang masuk, jadinya masyarakat tidak mau ribet untuk itu," tukasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini