Kisah Jimat, Resign dari Kerjaan Kini Jadi Pembudidaya Ikan Lele Untungnya Tak Disangka-sangka

Hasan Hidayat, Jurnalis · Jum'at 05 November 2021 16:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 05 455 2497324 kisah-jimat-resign-dari-kerjaan-kini-jadi-pembudidaya-ikan-lele-untungnya-tak-disangka-sangka-bXDWsAd9Hc.png Kisah Jimat Sukses Jadi Pembudidaya Ikan Lele (Foto: Hasan/MPI)

CIREBON - Kisah pria muda yang memutuskan resign dari pekerjaan kini menjadi pembudidaya ikan lele dengan untung besar.

Dia adalah Jimat Ali Santoso (27), pemuda asal Desa Dukuh Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon.

Jimat berjuang meneruskan usaha sang ayah membudidayakan ikan lele sejak tahun 2019, kini mulai membuahkan hasil yang signifikan.

Dari tujuh kolam yang berukuran 25 meter x 10 meter yang dia miliki, dalam satu waktu panen dia menghasilkan lele sebanyak 2 ton.

"Saya bersyukur budidaya iklan lele ini semakin berkembang, saya yang sebelumnya pegawai salah satu perusahaan asuransi, melanjutkan ayah saya dan perlahan menemukan pola usaha ini, Alhamdulillah dalam setiap panen lele ada sekitar satu ton," ujar pria yang merupakan lulusan sarjana ilmu komunikasi tersebut.

Baca Juga: Ingin Bisnis Budidaya Ikan Lele? Cek Dulu Lokasinya

Jimat tergabung dalam kelompok pembudidaya Balong Sewu. Dia mengaku dalam mengelola kolam dan proses budidaya ikan lele tersebut menggunakan satu jasa produk yang memudahkannya melakukan pengelolaan kolam dan ikan lebih tertata baik dari segi waktu maupun kualitas ikan yang dihasilkan.

“Saya sudah mengerjakan lahan ini sejak tahun 2019. Saya pertama mengenal eFishery tahun lalu, kemudian saya mulai mencoba menggunakan eFisheryFeeder,” ujar Jimat.

Jimat mengungkapkan, sejak menggunakan teknologi eFisheryFeeder, produktivitas kolamnya cukup meningkat.

“Setelah satu tahun ini bekerja dengan teknologi ini yang tadinya hasil panen hanya berkisar 800 kg per kolam sekarang meningkat menjadi 2-2,5 ton per bulan,” jelasnya.

Jimat mengaku, awal mula membentuk bisnis budidaya ikan lele ini, dia memiliki kesulitan modal dan juga kekurangan pakan, sehingga hasil dari budidaya yang dilakukannya, tidak maksimal.

Jimat menuturkan, saat ini pertumbuhan usaha budidaya ikan yang dimilikinya cukup berkembang pesat dan perekonomian keluarganya menjadi lebih baik.

“Alhamdulillah, sekarang saya bisa memperluas lahan bisnis budidaya ikan lele saya hingga memiliki 7 kolam,” pungkas Jimat.

Sementara itu, Kepala Desa Dukuh Kecamatan Kapetakan, Muhammad Bisri mengatakan, di desanya memang banyak kolam-kolam yang digunakan sebagai budidaya ikan. "Kolam-kolam yang ada di desa kami ini, dulunya sawah yang kurang produktif, jadi oleh warga dibuatlah kolam, sudah cukup lama, warga kami memanfaatkannya untuk berbudidaya ikan," kata Bisri.

Menurut Bisri, kelompok budidaya ikan lele Balong Sewu ini merupakan salah satu kelompok pembudidaya yang besar di desanya. "Di kompleks Balong Sewu ini ada 60 kolam dengan 20 pembudidaya, salahsatunya Jimat ini," jelasnya.

Co-Founder dan Chief of Staff eFishery, Chrisna Aditya mengatakan, pihaknya terus mengembangkan inovasinya dalam membantu para pembudidaya ikan dan udang di Indonesia.

"Misi kami adalah untuk memberi makan dunia melalui akuakultur, menjadikan akuakultur sebagai sumber protein hewani terbesar. Mimpi besar untuk menjaga kualitas pangan dan mengurangi kelaparan tentunya hanya dapat kami realisasikan jika kami tumbuh bersama dengan para pembudidaya," ungkapnya.

Hingga kini, menurut Chrisna, produk dan layanannya telah menjangkau 70.000 kolam di seluruh Indonesia dan meningkatkan pendapatan pembudidaya hingga 45 persen.

“Kami ingin menciptakan ekosistem yang inklusif, sehingga siapa saja, termasuk pembudidaya milenial seperti Pak Jimat, dapat sukses berbudidaya dengan dukungan yang diberikan oleh kami," katanya.

Chrisna juga menjelaskan, bahwa prospek industri akuakultur semakin berkembang pesat ketimbang sektor makanan berbasis hewani lainnya.

Dari data yang dihimpunnya, laju tangkapan ikan laut cenderung stagnan, di mana pertumbuhannya hanya tiga persen. Di sisi lain, akuakultur tumbuh 21 persen selama enam tahun terakhir sehingga prospek industri ini semakin cerah karena potensinya sangat besar termasuk Indonesia.

“Saat ini sudah lebih dari 20.000 pembudidaya yang menjadi bagian dari kami dalam 8 tahun berdiri,” pungkasnya

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini