Proyek Ibu Kota Baru Jadi Prioritas Kerjasama RI-UEA

Michelle Natalia, Jurnalis · Jum'at 05 November 2021 09:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 05 470 2497071 proyek-ibu-kota-baru-jadi-prioritas-kerjasama-ri-uea-lhd6y8Fj24.png Presiden Jokowi di UEA Invesment Forum Dubai. (Foto: Okezone.com/Setpres)

DUBAI - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam Indonesia-PEA (Persatuan Emirat Arab) Investment Forum.

Dalam forum ini, Indonesia-UEA membahas beberapa hal yang menjadi prioritas kerja sama antara Indonesia dengan PEA.

Baca Juga: Presiden Jokowi Butuh Rp500,5 Triliun Bangun Ibu Kota Baru

"Prioritas yang pertama yaitu terkait pembangunan ibu kota baru. Selanjutnya kerjasama di bidang transisi energi, di mana Bapak Presiden menyampaikan akan lakukan transisi ini sebaik mungkin dengan mengundang investor dan teknologi dengan harga terjangkau," ujar Airlangga dalam akun Instagram resminya @airlanggahartarto_official pada Jumat(5/11/2021).

Sehingga, jika PEA tertarik melakukan investasi untuk energi baru dan terbarukan (EBT), ini adalah saat yang tepat karena potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia cukup banyak dan beragam.

Baca Juga: Bertemu Pangeran MBZ, Presiden Jokowi Bahas Pembangunan Ibu Kota Baru

Sektor prioritas ketiga yang disampaikan dalam forum ini adalah di sektor perdagangan. Dalam hal ini, Jokowi menekankan pentingnya diversifikasi perdagangan dan mulai menegosiasikan Persetujuan Ekonomi Komprehensif (CEPA).

"Kita semua berharap kerjasama ini tentunya dapat terus terjalin sehingga mendatangkan manfaat untuk bangsa kita maupun untuk PEA," pungkas Airlangga.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan tiga sektor pembangunan Indonesia yang bisa dijadikan prioritas kerjasama antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA). Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Indonesia–UEA Investment Forum yang berlangsung di Dubai, Kamis, 4 November 2021.

“Yang pertama, pembangunan ibukota baru Indonesia.Untuk membangun ibukota baru setidaknya dibutuhkan dana sebesar USD35 miliar atau setara Rp500,5 triliun (kurs Rp14.300),” katanya dikutip dari siaran pers Biro Pers Setpres, Jumat (5/11/2021).

Kemudian sektor kedua adalah di bidang transisi energi. Jokowi berkomitmen akan lakukan transisi ini sebaik mungkin dengan mengundang investor dan teknologi dengan harga terjangkau. “Jika anda tertarik melakukan investasi untuk energi baru dan terbarukan, ini adalah saat yang tepat. Potensi yang dimiliki Indonesia cukup banyak dan beragam, hidro, surya, panas bumi dan lain-lain,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini