Kereta Cepat Buka Peluang Investasi di Bandung

Erlinda Septiawati, Jurnalis · Sabtu 20 November 2021 22:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 20 470 2504708 kereta-cepat-buka-peluang-investasi-di-bandung-cuCFKVJLjC.jpg Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. (Foto: Okezone.com/KAI)

JAKARTA - Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) hingga awal November mencapai sekitar 80% dan ditargetkan bisa beroperasi pada akhir 2022.

Kereta cepat nantinya dapat memangkas waktu tempuh Jakarta-Bandung menjadi lebih efisien dan lebih cepat karena hanya butuh waktu sekitar 46 menit saja.

Kereta Cepat Jakarta-Bandung memiliki panjang lintasan 142,3 kilometer dan semula direncanakan untuk berangkat dari Stasiun Halim di Jakarta, singgah di Stasiun Karawang, lalu Stasiun Walini di Bandung Barat, dan berakhir di Stasiun Tegalluar Kabupaten Bandung.

Baca Juga: Erick Thohir Buka-bukaan soal Proyek Kereta Cepat Dibantu APBN

Namun, belakangan Stasiun Walini ditunda dan Kereta Cepat akan transit di Stasiun Padalarang sebagai penghubung menuju kota Bandung sebelum akhirnya sampai di Stasiun Tegalluar Kabupaten Bandung.

Country Manager Rumah.com Marine Novita menilai, keputusan KCJB menjadikan Stasiun Padalarang sebagai stasiun penghubung karena pertimbangan demografi, komersial, dan infrastruktur area Padalarang yang memadai serta untuk menyasar penumpang yang berasal dari Bandung bagian barat. Keputusan ini dapat mengembangkan kawasan sekitar, di mana lokasi tersebut berada di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang tengah berkembang pesat.

Baca Juga: Sulitnya Pembebasan Tanah di RI, Biaya Kereta Cepat Bengkak Jadi Rp121 Triliun

Kabupaten Bandung Barat sebagai wilayah yang secara resmi berdiri pada tahun 2007 kini tengah menggeliat dan berkembang sangat cepat. Kabupaten ini memiliki wilayah seluas 1.305,77 kilometer persegi dengan pusat pemerintahan di Kecamatan Ngamprah yang terletak di jalur Bandung-Jakarta.

“Perkembangan pesat wilayah KBB mulai terasa sejak tahun 2000, dengan pengembangan Kota Baru Parahyangan (KBP) sebagai proyek hunian kota satelit seluas 1.250 hektar yang menjadi komplek hunian terbesar di wilayah Bandung Raya. Beberapa komplek hunian lain juga muncul di lokasi yang berdekatan. Beberapa titik di wilayah KBB yang mengalami perkembangan paling cepat adalah Padalarang, Lembang, dan Ngamprah,” katanya, Sabtu (20/11/2021).

Marine menjelaskan bahwa data-data menunjukkan potensi investasi maupun hunian pribadi di Kabupaten Bandung Barat. Salah satu indikatornya, Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI) untuk indeks harga rumah di Bandung Barat belum merangkak naik

Pada kuartal III-2021, indeks harga rumah di Bandung Barat mengalami penurunan sebesar 3,2% (quarter-to-quarter). Sedangkan secara tahunan, indeks harga rumah di Bandung Barat juga turun cukup signifikan sebanyak 9 persen (year-on-year).

“Kendati demikian, penurunan dari sisi indeks harga tidak terjadi untuk indeks suplai yang justru meningkat tajam. Pada kuartal III-2021 indeks suplai rumah mengalami kenaikan sebesar 23,5% secara kuartalan dibandingkan kuartal II-2021. Bahkan yang lebih menarik adalah indeks suplai rumah di Bandung Barat berhasil meningkat sebanyak 111,2% secara tahunan,” terang Marine.

Data Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI) tersebut memiliki akurasi yang cukup tinggi untuk mengetahui dinamika yang terjadi di pasar properti di Indonesia, karena merupakan hasil analisis dari 600.000 listing properti dijual dan disewa dari seluruh Indonesia, dengan lebih dari 17 juta halaman yang dikunjungi setiap bulan dan diakses oleh lebih dari 5,5 juta pencari properti setiap bulannya.

Sementara jika ditinjau dengan skala lebih luas, berdasarkan data Rumah.com Indonesia Property Market Index (RIPMI), pada kuartal III-2021, indeks harga rumah di Bandung meningkat sebanyak 1,4 persen secara kuartalan. Sedangkan secara tahunan, indeks harga rumah di Bandung naik sebesar 4,3% (year-on-year) pada kuartal III-2021.

RIPMI juga mengamati pergerakan indeks suplai rumah di Bandung dalam satu periode terakhir. Tercatat, pada kuartal III-2021, indeks suplai rumah meningkat signifikan sebanyak 13,6% (quarter-to-quarter) dibandingkan kuartal II-2021.

Peningkatan indeks suplai pun tak hanya terjadi secara kuartalan, namun juga secara tahunan. Bahkan peningkatan indeks suplai rumah di Bandung secara tahunan sangat tajam, yakni mencapai 65,6% (year-on-year) di kuartal III-2021.

Marine menambahkan bahwa adanya kenaikan indeks suplai rumah di wilayah Bandung secara umum dan Bandung Barat secara khusus mengindikasikan bahwa terjadi pemulihan tren properti. Selain itu indeks suplai rumah yang meningkat tajam tentunya juga mengindikasikan bahwa demand atau permintaan pasar mulai menguat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini