Penantian 11 Tahun! Pengusaha: Minyak Goreng Curah Dilarang karena Sebabkan Penyakit

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Kamis 25 November 2021 16:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 25 320 2507382 penantian-11-tahun-pengusaha-minyak-goreng-curah-dilarang-karena-sebabkan-penyakit-4Qdv9LIwUz.jpg Minyak Goreng Curah (Foto: Okezone)

JAKARTA - Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menyambut baik pelarangan minyak goreng curah. Penantian selama 11 tahun akhirnya dapat terealisasi minyak goreng curah dilarang dijual mulai 1 Januari 2022.

Sejak 2010 hingga 2021 sudah banyak industri yang merupakan anggota GIMNI telah melakukan investasi miliaran untuk mesin packing, namun mesin tersebut belum dapat digunakan dengan optimal sampai saat ini.

"Pas rentan waktu itu, sudah banyak industri kami anggota GIMNI yang melakukan investasi packing mesin karena kami kan ingin minyak gorengnya dalam bentuk kemasan sederhana. Tapi ketetapan penyetopan belum kunjung terealisasi. Maju mundur terus. Investasi ini bermiliar-miliar tapi enggak pernah dipakai," ungkap Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga kepada MNC Portal Indonesia.

"11 tahun loh kami nunggu. Anggota kami sudah jenuh. Sampai akhirnya Juni 2021 kemarin kami minta kepastian jangan mundur lagi dan bisa terealisasi pada 1 Januari 2022," sambungnya.

Baca Juga: Dilarang Dijual 1 Januari 2022, Harga Minyak Goreng Kemasan Bisa Lebih Murah dari Curah?

Alasan dari desakan GIMNI karena 25-28 persen minyak curah yang beredar di pasar tradisional berasal dari minyak jelantah. Menurut penelitian di beberapa negara, minyak goreng curah tidak baik untuk dikonsumsi karena dapat menyebabkan penyakit.

"Menurut pandangan kami, minyak goreng yang beredar dalam bentuk curah itu 25-28 persen asalnya dari jelantah yang diolah kembali. Dan menurut penelitian dari beberapa negara, minyak goreng curah itu dilarang karena menyebabkan penyakit. Makanya saya bilang, stop aja," kata Sahat.

Seperti diketahui, Kementerian Perdagangan sudah menggaungkan larangan peredaran minyak goreng curah mulai 1 Januari 2022. Sahat menilai, ketetapan itu sudah tepat dilakukan terlebih di situasi sekarang ini.

Sahat mengatakan, minyak goreng curah bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain, seperti dialihkan menjadi bahan baku biodiesel. Sehingga meski 1 Januari 2022 minyak goreng tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi, setidaknya bisa berguna untuk hal lain.

"Kami dari GIMNI meminta minyak goreng curah di stop saja peredarannya dan meminta kepada kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memanfaatkan minyak curah ini jadi bahan baku biodiesel. Karena di negara lain itu dipakai untuk bahan bakar. Kenapa kita enggak begitu, kan sayang," katanya.

Kendati demikian, dia mengingatkan, pengolah minyak sawit menjadi minyak goreng tidak hanya GIMNI, melainkan ada pula asosiasi lain seperti Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI) dan perusahaan yang di luar asosiasi.

Untuk itu, menurut Sahat, perlu adanya gerakan dari Kementerian Perindustrian serta Perdagangan agar bisa memaksa pihak tersebut untuk mendukung langkah baik ini.

"Tapi kami mengingatkan, pengolah minyak sawit menjadi minyak goreng tidak hanya GIMNI, melainkan ada pula asosiasi lain seperti AIMMI dan perusahaan yang diluar asosiasi. Siapa yang tanggung jawab? Untuk itu kami minta kementerian perindustrian dan perdagangan bisa memaksa mereka supaya mereka bergerak," katanya.

"Kami mendesak ini karena kami ingin perusahaan makanan bisa menjamin kesehatan produk yang dihasilkan. Jangan hanya cari untung," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini